Kembalinya Klan Peri Klan Uzumaki Chapter 8


Kembalinya Klan Peri Klan Uzumaki
Naruto © Masashi Kishimoto
The Lord of The Rings © J.R.R Tolkien
Warning: Sequel from ‘HEART’. Semi-Crossover with The Lord of The Rings. Romance/Adventure. A bit Fantasy. AU. OOC.
Pairing insert: Naru/Saku, Mina/Kushi, Sasu/Hina, Shika/Ino, Kaka/Kure
.
Airmuka Suzaku pun menunjukkan rasa iba. “Anda…memang sangat ingin sekali bertemu dengan Sakura-hime…” Sepertinya ia sangat mengenal sosok istri tuannya.
            “Tentu saja, seharusnya seribu tahun pun akan bisa kami lewati bersama-sama di sini. Namun apa boleh buat, semuanya telah terjadi…”
            “Baiklah kalau begitu, kami berempat pun akan menjaga tempat ini di keempat pintu masuk utama.”
.
.
Chapter 8
Klan Peri Klan Uzumaki II
.
.
            Sepertinya ini adalah pagi tersuram yang menyelimuti suasana Konohagakure No Sato. Padahal telah banyak orang berlalu-lalang yang dilihatnya, namun Ino tidak terlalu mengerti mengapa kini ia begitu gelisah.
            Hari ini pun ia begitu malas membuka toko bunganya sesuai jadwal biasa, entahlah, yang jelas ia sungguh bosan. Ino membuka tokonya terlambat 30 menit dari hari biasa. Sejak tiga hari kemarin ia hanya berada di rumah. Anggota Tim 10 yang lain punya kesibukan masing-masing. Tidak ada misi atau hal lain yang mengharuskan mereka untuk berkumpul. Padahal rindu akan bersenda gurau dan bercengkrama dengan timnya sudah sangat menjalar dalam dirinya hingga terasa sesak.
“Apa tidak ada hal lain yang harus kulakukan?” tanya Ino seraya membereskan pot-pot yang letaknya agak tak beraturan.
“Ada kok, kau harus ikut aku sekarang karena Godaime-sama ingin menyampaikan hal penting.”
Pot yang sedang Ino pegang nyaris terjatuh tatkala ia menyadari sosok yang tiba-tiba berada di depan tokonya. “Shi-Shikamaru.”
“Ya, memang kau pikir siapa?” tukas Shikamaru datar.
“Apa yang ingin Godaime-sama bicarakan? Apakah kita akan mendapatkan misi?”
“Memangnya aku tahu? Sudah, tidak usah banyak tanya. Kau ikut aku sekarang, kalau tidak kau akan kutinggal.”
“Eh? Ba-Baiklah, tunggu sebentar.” Ino masuk ke dalam rumahnya, lalu meminta izin pada ibunya untuk menggantikannya menjaga toko.
Dan sikap Shikamaru masih belum berubah dari seminggu yang lalu.
.
o0o
.
“Kau belum bosan untuk melihat sejarah leluhurmu, kan, Naruto?”
“Hm? Tidak juga, lagi pula aku sedang tidak dikejar-kejar oleh waktu,” jawab Naruto tanpa emosi. Aku sendiri tidak tahu apa waktu masih bergulir. Ia mendengus kesal dalam hatinya. Semua ini begitu membuat pusing. Ia ingin tahu, tapi dalam satu waktu ia tak ingin tahu. Entahlah. Sepertinya akan ada rahasia yang membuatnya terhenyak.
“Kita berada di waktu sepuluh tahun setelah insiden Akio yang bertengkar dengan ayahnya—Rikudou Sennin.”
Kushina dan Naruto kini berada di balairung Rumah Besar Uzumakigakure yang sangat luas. Pilar-pilar kokoh menahan langit-langitnya yang tinggi. Di sana serba berwarna emas. Singgasana yang megah itu sebenarnya milik pemimpin Uzumakigakure, tapi Rikudou Sennin diizinkan duduk di sana. Sebagai tanda jika ia dianggap setara dengan pemimpin Uzumakigakure.
“Aku sudah memutuskan tiga hari nanti, akan segera pergi ke Valinor. Tidak ada yang bisa menghentikan niatku ini.”
Naruto melihatnya dengan serius. Waktu sepuluh tahun? Tapi Rikudou Sennin sama sekali tidak terlihat tua. Jadi, memang benar apa yang dikatakan wanita ini.
            Di depan Rikudou Sennin duduk dua orang lelaki berambut merah. Yang satu rambutnya panjang diikat ke belakang, yang satu dipangkas hingga di ujung leher. Yang satu berwajah sangat teduh, yang satu berwajah beringas sekaligus menyimpan suatu rahasia hitam yang mengerikan. Karenanya dengan melihat airmuka mereka, mereka dapat dibedakan. Padahal dulu mereka bagai pinang dibelah dua meski bukanlah anak kembar. Yang jelas ditubuh mereka mengalir satu darah persaudaraan kandung.
            “Aku akan memberikan gulungan rahasia yang aku miliki. Di sana ada kekuatan rahasia yang bisa kalian gunakan untuk melindungi Uzumakigakure dan dunia ini,” ujar Rikudou Sennin pada kedua putranya yang kini telah beranjak dewasa.
            “Ya, Ayah. Tak perlu berlama-lama. Kau tidak akan memberikannya pada kami berdua, kan? Jadi, ayo sekarang kau bilang saja siapa yang akan kau pilih sebagai pewaris gulungan rahasia itu,” ungkap Akio yang menyeringai; tak sabar menanti keputusan ayahnya. Ada hawa jahat yang mengitarinya, Naruto bisa merasakan itu.
            “Jangan tak sabaran begitu, Akio. Gulungan itu yang akan memilih salah seorang diantara kalian berdua. Pada saat posisi matahari tegak lurus dengan bumi, kalian datanglah ke Menara Pusat Segel Empat Penjuru Mata Angin. Di sana takdir kalian akan diputuskan. Dan sekarang adalah waktu terakhir kalian melihatku. Hiduplah dengan bijak di dunia fana ini.”
            Akio dan Akira memberikan salam hormat terakhir pada ayah mereka sebelum Rikudou Sennin menghilang, dan tak pernah terlihat kembali di Rumah Besar Uzumakigakure.
            “Rikudou Sennin pergi ke Valinor tiga hari setelahnya. Tak ada acara perpisahan yang mengharu biru, tidak ada keramaian. Ia sengaja pergi tanpa banyak orang tahu. Hanya Dewan Petinggi Uzumakigakure, dan kedua anaknya yang tahu akan hal ini. Ayo, Naruto. Kita ke masa di mana ini adalah awal dari kekacauan di dunia shinobi.”
            Sekejap saja Kushina dan Naruto sudah berada di sebuah menara yang menjulang tinggi ke langit, tak terlihat ujungnya. Menara itu terbuat dari intan yang sangat keras, berkilauan diterpa cahaya matahari siang. Lantai di bawahnya yang terbuat dari intan juga; terukir pola segi empat yang di dalam sisinya terdapat bintang yang ekor-ekornya menunjuk ke empat mata angin: utara, selatan, timur, dan barat.
            Segel itu adalah miniatur lambang bintang Earendell, yang memiliki empat ekor cahaya.
Di pinggir menara berdiri Akio dan Akira yang menunggu mandat datang. Ada juga Dewan Petinggi Uzumakigakure yang melihatnya di luar wilayah segel utama. Menjadi saksi peristiwa bersejarah ini.
            “Setelah ini, takdirmu dan takdirku akan berbeda, Dik,” ujar Akio dengan nada meledek.
            Sementara Akira hanya tersenyum kecil mendengar ungkapan kakaknya.
            Lalu waktu itu pun datang. Menara Pusat Empat Segel Mata Angin berkilau hingga membuat silau mata yang melihat saat matahari tepat berada di atasnya.
             Perlahan menara itu terbelah empat dari bagian tengahnya, kemudian terpisah perlahan. Pola segel empat mata angin bercahaya di keempat ujungnya. Masing-masing adalah warna yang melambangkan para keempat hewan buas, yaitu: merah di selatan, biru di timur, hijau di utara, dan putih di barat.
            Naruto melihatnya dengan wajah serius. Di dekat menara itu kemudian muncul sebuah meja yang terbuat dari intan juga.
            Kemudian Akio dan Akira beranjak menuju ke sana untuk menunggu petunjuk.
            Setelahnya cahaya dari matahari yang lurus, perlahan-lahan menekuk ke bawah, semakin ke bawah sampai ia menunjuk pada satu direksi, yaitu...
             “K-Kau...harusnya itu milikku! Akio tiba-tiba menjadi geram.
            Perlahan-lahan ada cahaya keemasan yang berkumpul mendekat ke arah Akira, semakin dekat...
            Sampai Akio terlihat garang. Sebelum sampai di tangan Akira, cahaya keemasan yang adalah gulungan rahasia milik Rikudou Sennin itu direbut olehnya. Ini adalah milikku. Jika ini diberikan padamu hanya akan menjadi sampah, kan, wahai pesuruh Rumah Besar desa terkutuk ini? Hahaha.
            Dewan Petinggi Uzumakigakure terkesiap melihatnya, mereka semua berdiri, namun dengan shunshin no jutsu Akio berada di depan mereka dengan membuat kekkai dari api.
            “Mau apa kau, Akio?!” teriak Miyazaki.
            Berisik! Ini bukan urusan kalian! hardik Akio. Nah, adikku mari kita selesaikan ini, kalau kau berhasil mengalahkanku, aku akan memberikan gulungan ini padamu. Kita bertarung sebagai yousei yang terhormat.
            Apa benar itu tujuanmu untuk sampai bertindak jauh, Nii-san? Kau juga sebenarnya ingin membunuhku, kan?
            Hm? Hahaha. Kau sudah tahu rupanya. Ya, aku jijik melihat wajah rendahanmu yang rela menjadi pesuruh Rumah Besar Uzumakigakure. Kau memalukan ayah kita saja.
             Pesuruh? tanya Naruto.
            Lebih tepatnya Akira menjadi penjaga Rumah Besar Uzumakigakure yang dibawahi langsung oleh ayahku. Tingkatnya setara dengan prajurit biasa. Itu ia lakukan untuk memperbaiki reputasi kakaknya yang dipandang jelek oleh desa. Ia ingin menebusnya dengan tidak mengambil kesempatan berdiri sejajar dengan Dewan Petinggi.
            Adik yang baik ya, komentar Naruto; menunjukkan rasa simpatinya.
            Baiklah siapa dulu ya akan memulai ya? seringai Akio.
            Itu terserah, Nii-san, aku
            Kena! tiba-tiba Akio muncul di belakang adiknya yang belum sempat menyelesaikan ucapannya.
            Cepat sekali! lenguh Naruto yang terperengah melihat pemandangan itu.
            Mulut Akira berlumuran darah; ia melirik sedikit ke arah belakang dengan raut wajah setenang mungkin. Padahal tak dipungkiri ia sedang kesakitan.
            Kau selalu membalas ocehanku, Dik. Itulah mengapa kau menjadi lengah. Dasar bodoh! Hahaha.
            Ke-Kenapa kau sa-sangat ingin memb-bunuhku? Kenapa k-kau sa-sangat membenciku, Nii-san?
            Aaa... Apa Akira yang manis ini akan menangis? Hahaha. Kau tahu? Aku sangat membencimu karena Ada hanya memperhatikanmu. Padahal yang paling hebat adalah aku! Kau hanyalah parasit yang memalukan leluhur kita! Sedangkan akuaku adalah anak dari Rikudou Sennin dan Hokuto No Ojou!
            Akira menghela nafas dengan tenaga tersisanya. Nii-san, sebenarnya kau begini karena Memil telah tiada, kan?
            Akio tiba-tiba bergetar mendengarnya. Ia bungkam sesaat.
            Kau juga sedih mengapa Ada juga harus pergi ke Valinor. Iya, kan?
            Be-Berisik...
 Nii-san hanya pura-pura kuat sehingga melampiaskannya dengan amarah membara. Padahal dalam hati Nii-san sangatlah rapuh.
            Kubilang diam!eh?
            Seketika tubuh Akira berubah menjadi intan berbentuk manusia. Dan tubuh aslinya menendang kakaknya dari titik buta di atas kepalanya. Akio pun terpelanting ke bawah.
            Kau harus ingat bahwa di dalam diriku juga mengalir darah Rikudou Sennin dan Hokuto No Ojou! Daiyamondoburēdo no jutsu (jurus serangan pedang intan)! kemudian Akira menghentakkan tangannya ke bawah sehingga lantai yang terbuat dari intan itu berubah runcing menusuk-nusuk tubuh Akio.
            Akio tidak terlalu sempat menghindar sehingga kedua tangannya terkena intan runcing itu. Dan gulungan rahasia yang ada di tangannya terlempar ke udara.
            Akira mengeluarkan jutsu angin penghisap dari tangannya sehingga gulungan rahasia itu datang sendiri ke tangannya.
            Naruto yang memperhatikan pertarungan seru itu jadi bertanya-tanya. Dari tadi mereka mengeluarkan jutsu, tapi mengapa tanpa segel tangan?
            Itulah ciri-ciri Klan Uzumaki, Naruto. Kami menggunakan chakra yang diambil tidak hanya dari tubuhh kami tapi juga dari energi dalam bumi. Dan hati kami yang bekerja untuk mengeluarkan jutsu andalan kami. Sehingga tidak memerlukan segel tangan yang rumit, jelas Kushina panjang-lebar.
            Eh, praktis sekali. Hanya memikirkan jurusnya dan merapalkan saja?
            Ya, setidaknya harus sesuai dengan elemen bawaan. Akira berelemen air, angin, dan tanah. Tadi ia mampu mengubah dirinya menjadi intan karena ada unsur tanah dan air dalam pembentukannya. Sedangkan Akio berelemen api. Kami lebih sering menciptakan pola segel dibandingkan dengan menggunakan segel tangan.
            Tapi bukankah itu curang? Bagaimana kalau lawannya manusia biasa?
            Kushina hanya tersenyum mendengarnya. Nah, tidak semua yousei bisa melakukannya. Yang bisa adalah yousei yang berhasil membuang lima dosa dari tujuh dosa yang tidak terampuni. Lagipula yousei menggunakannya pada saat sedang terdesak saja dan juga ini adalah pertarungan antar sesama yousei.
            ‎​Eh? Naruto tidak terlalu mengerti apa itu tujuh dosa yang tidak terampuni.
            Cih! Akio lalu salto di udara untuk menghindari serangan dari bawah. Dengan cepat ia berdiri di Menara Segel Empat Mata Angin itu sambil menyerang Akira dengan api besar yang keluar dari mulutnya.
            Akira menghentakkan tangannya ke lantai yang terbuat dari intan yang kemudian terburai menjadi air. Menjadi perisai untuk menghindari serangan api kakaknya. Tapi serangan api yang bagai peluru itu begitu dahsyat, Akira sampai terbakar sedikit tangannya.
            Kau masih di bawahku, Akira. Baiklah, sekarang aku tidak akan main-main. Akan aku perlihatkan jurusku yang sesungguhnya, Akio lalu menghentikan tangannya di badan Menara Segel Empat Mata Angin yang sudah tertutup itu.
            Tiba-tiba saja menara itu pecah berkeping-keping, dan segelnya otomatis terbuka. Lalu muncul lingkaran hitam yang semakin lama semakin membesar tepat di atas langit menara yang telah menjadi kepingan itu.
            Keempat hewan buas yang menjaga Lingkar Luar Uzumaki terkesiap di tempatnya masing-masing.
            Ada yang membuka segel.
            Bukan membuka, tapi menghancurkannya.
            Tidak mungkin, padahal segelnya mengandung kekuatan besar kita.
            Itu artinya pelaku menghancurkannya dengan sesuatu di luar kuasa kita, sesuatu yang sangat kita benci.
            Kau mendengar suara-suara seperti monster itu, Naruto. Mereka sedang berdiskusi, ujar Kushina di tengah pertarungan dahsyat ini.
            Naruto memang mendengarnya samar-samar. Siapa mereka
            Seiryuu, Genbu, Suzaku, dan Byakko; Shi no Ujigami.
            Akira dan seluruh Dewan Petinggi terkejut melihatnya.
            Kau pasti tahu, Akira. Jika seorang yousei berhasil membuang tujuh dosa tak terampuni maka dia sudah disetarakan sebagai Tuhan. Jika hanya lima, dia bisa menjadi seorang Pertapa Sakti seperti Ada. Nah, bagaimana jika tujuh dosa itu tidak dibuang, melainkan disatupadukan di dalam hati ini?
            Akira mematung melihat ulah kakaknya yang sudah terlampau jauh. Angin besar pun mulai mengitari tempat itu. I-Ini.. Jigoku Mon (Pintu Neraka).
            Hahaha, tebakanmu benar, Adikku. Selamat datang di pintu di mana Sembilan Iblis Berjubah Hitam lahir. Bagaimana jika aku memanggil iblis yang lain, hm?
            Cukup Akio! Kau keterlaluan! teriak salah satu Dewan Petinggi yang kesemuanya masih terkurung di dalam kekkai.
            Hahaha, aku memang tidak bisa menundukkan Shi No Ujigami, tapi dengan kesembilan bijuu saja sebenarnya sudah cukup. Akan kubuka pintu yang menyimpan kekuatan hitam yang kalian benci! Desa ini akan aku hancurkan! Dan aku akan menguasai dunia dengan memiliki bijuu-bijuu itu! Hahaha!
            Kita tidak bisa tinggal diam, Seiryuu. Ayo, segera kumpulkan kekuatan untuk melenyapkan Jigoku Mon. Kau yang memimpin ritual, ucap Genbu pada pemimpinnya.
            Hei, yang pemimpin adalah aku, bukan Seiryuu! protes Suzaku.
            Asal bicara kau, Suzaku. Sejak dulu akulah pemimpin di sini! Kau tahu itu, balas Seiryuu tak mau kalah.
            Rikudou Sennin sendiri yang memintaku untuk menjadi pemim
            Hentikan! Sekarang bukan waktunya untuk berdebat! Byakko berusaha melerai.
            Yaya cepatlah, aku tak ingin lautku sekaligus tempat tidurku ikut hancur, hooaam, celetuk Genbu yang paling santai dan pemalas di antara mereka.
            Naruto terkekeh-kekeh mendengarnya, ternyata keempat hewan buas ini seperti anak kecil saja, suka bertengkar. Padahal suasana sedang kacau.
            “Baiklah, kita mulai. Akio lalu menangkupkan kedua tangannya, kai!  kemudian warna hitam menyelimuti pola segel di lantai menara. Terus menyebar hingga hitamnya sampai di pusat segel di masing-masing lembah tempat Shi no Ujigami berada.
            Sial! Kita terlambat!” teriak Seiryuu. “Ayo, cepat kalian berdiri di masing-masing menara kalian.”
            “Apa yang akan kita lakukan?”
            ROAARR!
            “Apa itu?”
            “Itu suara teriakan para bijuu! Mereka terpengaruh kekuatan hitam dari pintu sial itu dan ingin keluar dari sini! Bagaimana ini? Menghancurkan pintu itu kita perlu kekuatan penuh, tidak akan bisa membaginya untuk menahan bijuu,” jelas Byakko yang terlihat panik.
     Para bijuu mulai mengamuk tak terkendali, mata mereka meradang merah. Berlari kesana kemari seperti ingin mencari tempat keluar. Dan akhirnya mereka keluar dari Uzumakigakure secara membabi buta; seperti hewan yang kesurupan.
            Mereka terpengaruh dengan kekuatan hitamnya! Bisa-bisa mereka keluar dalam keadaan ganas seperti itu, Seiryuu!”   
            “Terpaksa kita harus mengedepankan hal yang lebih penting. Kita harus menyelamatkan Uzumakigakure dari kehancuran. Kita harus memperbaiki segelnya karena menara itu telah hancur. Selain para bijuu, menara itu berfungsi juga sebagai penyeimbang bumi. Aku jamin Akio tidak akan membunuh bijuu-bijuu itu. Jika bijuu-bijuu itu dibunuhnya itu perkara yang lebih serius,” jelas Seiryuu berusaha menenangkan bawahannya.
            Shi No Ujigami berdiri di menaranya masing-masing dan mulai mengumpulkan kekuatan. Mereka memusatkan pikiran ke Menara Pusat Empat Segel Mata Angin.
            “Kalau begitu bagaimana jika kau kumasukkan ke dalam pintu yang penuh dengan penderitaan ini? Ah, bukan kau saja, tetapi seluruh desa ini! Hahaha.” Akio merentangkan kedua tangannya ke arah pusaran hitam di atasnya, membuat pusaran itu semakin membesar.
            Perlahan-lahan pusaran itu mengisap apa saja yang ada di dekatnya.
            “Ugh! Aku harus menghentikan ini. Fuuton: Fuuryuudan No Jutsu (jurus serangan naga angin)!” Akira mengeluarkan jurus elemen angin berbentuk naga besar yang menyerang Akio, tapi ternyata ada perisai aneh yang mengitari tubuh Akio, sehingga jurus itu membalik ke arahnya.
            Akira tentu saja menghindar, tapi jurus itu kemudian menghantam ke arah Dewan Petinggi Uzumakigakure sampai membuat kekkai apinya hancur.
            “Miyazaki-sama!” teriak Akira yang panik.
            “Tenang saja, Akira. Fokuskan dirimu pada kakakmu!” rupanya Miyazaki mengantisipasi serangan dengan menggunakan kekkai angin terkuatnya.
            “Hahaha. Sekarang saatnya kau akan mati Akira! Akuma gurippu te no jutsu! (jurus cengkraman tangan iblis)!” lantas muncul tangan-tangan hitam yang jumlahnya tak terhitung keluar dari Jigoku Mon.
            Akira melesat-lesat susah payah menjauhi tangan menyeramkan itu. Tempat yang dilewati tangan tersebut tersentuh sedikit saja langsung terbakar api hitam. “Kalau begini seluruh Uzumakigakure bisa habis terbakar.” Ia fokus ke arah depannya selama lima detik, tapi ketika itu datang tangan-tangan hitam dari belakang.
            Sementara itu Naruto mendengar lagi Shi no Ujigami berdiskusi.
            “Ritual kalian lama sekali! Kalian sudah siap?!” seru Seiryuu dari tempatnya.
            “Siap!”
            “Aku menunggu aba-abamu!”
            “Lakukanlah sekarang, Seiryuu!”
            “Baiklah! Fuuinjutsu: Kaze no yosumi  (Jurus segel: empat penjuru mata angin)!”
            Kemudian cahaya biru, hijau, merah, dan putih melesat dengan cepat ke arah Menara Pusat Empat Segel Mata Angin di atas tanah Uzumakigakure.
            Akira mulai merasakan seluruh tubuhnya mati rasa. Tangan-tangan hitam itu masuk ke pembuluh darahnya; menghentikan peredarannya perlahan-lahan. Membuatnya muntah darah berkali-kali. “Jadi ini akhir dari hidupku?”
            Ia sudah tak bisa menggerakkan tubuhnya lagi. Ia hampir akan mengubah dirinya menjadi ledakan air untuk menutup pintu neraka itu. Tapi sebelum itu cahaya empat warna muncul dari pola segel yang saling tersambung dan meluncur ke langit dengan kecepatan yang tidak terjangkau mata. Ia jadi memiliki ide lain.
            “Tidak disangka mereka membantu, padahal aku belum bisa mengendalikan mereka,” ujar Akira tersenyum lemah.
            Jigoku Mon seketika menghilang ketika Segel Empat Mata Angin utuh kembali. Mengunci ekor-ekor pola segelnya yang tadi sempat terbuka. Tangan-tangan hitam yang menyerang Akira pun melepaskan cengkramannya. Tubuhnya tergeletak di tanah.
            “A-Apa?” Akio tampak kesal. “Kekuatanku terkuras 70% untuk membuka pintu ini. Dan Shi No Ujigami sialan itu menggagalkan rencanaku! Mereka masih menuruti pesan ayahku ternyata.” Ia kemudian menyadari adiknya nyaris tak berdaya di tanah tak jauh dari pijakannya. “Ah, sepertinya aku tidak perlu berkecil hati.”
            Dengan shunshin no jutsu Akio berdiri di samping adiknya, dan mencekik leher Akira tanpa pikir panjang. “Bagaimana rasanya sekarat itu, Akira? Nikmat bukan?” ujarnya menyeringai.
            “Heh, kau tidak bisa membayangkan betapa senangnya aku, Nii-san. Akhirnya aku bisa bertemu dengan Ada dan Memil,” Akira malah tersenyum puas.
            Akio jadi merasa ditampar. Ia lupa jika ia mati, ia akan bertemu dengan kedua orangtuanya, namun nafsu ingin memiliki kekuatan besarnya sangatlah besar. Membuatnya lupa akan hal yang berharga bagi dirinya. Tak disangka cengkraman tangannya di leher Akira melonggar. “K-Kurang ajar kau, Akira!
            Ia sadar Akira sudah tak bernafas lagi.
            Naruto yang melihat pemandangan itu jadi geram sendiri. “Tega sekali dia!” kemudian ia mulai mendengar suara-suara tak asing.
            “Bunuh saja dia, Miyazaki-sama! Dia sudah membunuh keluarganya sendiri. Ia pantas mendapatkannya!”
            “Membunuh sesama yousei adalah hal tabu. Aku tidak akan mengambil langkah itu Seiryuu-sama.”
            “Menyedihkan! Apa yang kau akan lakukan?”
            “A-Apa ini? Uaa!” Akio tiba-tiba melenguh kesakitan. Rupanya ia diselimuti cahaya kehitaman yang menyerangnya dari bawah.
            “Sudah cukup sampai di sini, Akio!”
            Dari kaki Akio muncul sebuah segel berbentuk lingkaran hitam yang di dalamnya muncul satu mata yang membuka. “Aaarrgggg!!!teriakan Akio semakin keras. Tubuhnya sedikit demi sedikit mengeluarkan darah akibat dari gerakan cahaya hitam itu yang melesat-lesat dari arah tanah menuju ke atas.
            I-Ini...kinjutsu (jurus terlarang)... Norowareta-me no mahō (sihir mata terkutuk).”
            Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Akira membuat pola segel jurus itu tepat saat kau berdiri di sampingnya. Jadi aku tak membayar apa-apa, Akira yang telah membayarnya dengan membuat segel terlarang di bawah kakimu. Sepertinya memang ini hukuman yang pantas untukmu, Akio!Miyazaki mengatupkan kedua tangannya di depan dada, lalu mengarahkan kedua tangannya ke arah Akio.
            Api akan mengejarmu ketika kau menapakkan kakimu di sini. Penderitaan akan selalu menghantuimu sampai ke keturunanmu. Ditakuti, dikhianati, dikucilkan, dicacimaki...itulah yang akan kau rasakan di sana. Bercampurlah dengan manusia! Maka kau akan mengerti penderitaan yang belum pernah dirasakan yousei! Jadilah kau sebagai siluman Tengu (siluman gagak)!”       
            “Dan kutukan ini akan kau bawa seumur hidupmu!
            Tubuh Akio pun terselubung hitam. Uuuaaarrgghhh! Ia lenyap perlahan-lahan dihisap oleh mata yang ada di bawahnya sampai mata itu tertutup.
            Kemudian Miyazaki berbisik, Kecuali jika kau bisa memperbaiki kesalahanmu...kutukan itu akan lenyap. Tapi apa kau bisa hilangkan rasa dendammu, hm?
            Bencana itu pun lenyap seketika. Yang tersisa hanya puing-puing intan, sisa-sisa api Akio, dan jasad Akira yang wajahnya terlihat damai.
            Miyazaki berlutut; memperhatikan Akira yang jiwanya sudah pergi ke tempat persinggahan terakhir para yousei. Semoga Valar menjaganya dengan baik sampai ke Valinor.” Ia lantas mengambil gulungan jutsu Rikudou Sennin yang tergeletak tak jauh dari Akira.
            “Miyazaki-sama!” terdengar geraman yang datang dari langit.
            Seluruh yousei yang ada di sana menengadahkan kepalanya ke sana, tak terkecuali Naruto dan Kushina.
            “Me-Mereka…” Naruto ternganga di tempatnya. Di sana ada Suzaku dan Seiryuu yang tubuh birunya nyaris memenuhi langit Uzumakigakure.
            “Kenapa kau tidak bunuh saja, Akio?! Seharusnya kau tidak perlu takut dengan hukuman melakukan hal tabu! Karena Akio memang pantas mendapatkannya. Apa tujuanmu mengirim Akio ke dunia manusia? Dia pasti akan membuat bencana di sana!”
            Naruto menelan ludah; ia agak ciut melihat raut wajah seram Seiryuu dan Suzaku yang tampak tidak senang.
            Kedua anggota Shi No Ujigami itu turun dari langit perlahan-lahan, lalu disusul oleh Byakko dan Genbu yang tiba-tiba hadir di sekitar mereka.
            “Ini adalah jalan terbaik untuk Akio,” jawab Miyazaki yang tampak tenang.
            “Alasan yang tidak bisa diterima! Para bijuu sekarang telah kabur ke dunia manusia. Ini bukanlah masalah sepele, Miyazaki-sama! Aku menjamin Akio akan membuat kekacauan di muka bumi, tidak hanya dia, tapi juga keturunannya.”
            “Kalau begitu mengapa kalian tidak mencegahnya?”
            “Seenaknya kau bicara! Tugas kami memang menjaga bijuu, tapi yang punya kuasa atas mereka adalah kalian! Kami yang seharusnya tunduk pada kalian, tapi tak ada satu pun dari kalian yang layak menjadi tuan kami! Termasuk kau, Miyazaki­-sama, meskipun kau kami anggap sebagai yousei yang terhormat.”
            Perdebatan pun tak bisa dielakkan lagi. Shi No Ujigami tampak kecewa dengan keputusan lembek Miyazaki.
            “Kami akan tertidur untuk jangka waktu seratus tahun. Dan kekacauan yang akan datang adalah tanggung jawab kalian, termasuk para bijuu!”
            Perlahan-lahan Shi No Ujigami lenyap dari hadapan para yousei. Di saat itulah semuanya dirasa telah mencapai akhirnya. Mereka lari dari beban yang mereka anggap bukan beban mereka.
            “Bagaimana ini, Miyazaki-sama? Shi No Ujigami memang memiliki rasa bangga yang tinggi pada dirinya sendiri, karena itu ia tak sembarangan tunduk pada yousei. Namun hanya kekuatan merekalah yang setara untuk melawan para bijuu.” Salah satu Dewan Petinggi Uzumakigakure membicarakan hal yang sangat mendesak ini pada Miyazaki.
            Tapi Miyazaki tampak tidak terlalu memusingkannya. “Yang terjadi biarlah terjadi, kita lihat apa yang terjadi ke depannya.”
            “Haah, kenapa ia kelihatan seperti orang yang pesimistis?” Naruto tidak terlalu suka dengan gelagat Miyazaki yang merupakan kakeknya sendiri.
            “Itu karena ia memiliki harapan lain,” jawab Kushina.
            “Harapan lain?”
            “Nanti kau akan tahu, Naruto. Ayo, kita loncat ke dimensi lain.”
            Lalu tanpa Naruto sadari, mereka telah berada di medan perang lain. Melompat ke satu dimensi dan dimensi lainnya yang memperlihatkan hal yang menyedihkan.
            Mayat shinobi bertebaran di mana-mana, bergelimpangan darah, bangunan rata oleh tanah, kobaran api yang membumbung tinggi, anak-anak yang menangis karena kehilangan orangtuanya, rakyat biasa yang menjadi sebatang kara. Seseringnya ia ikut andil di barisan depan medang peperangan, belum pernah Naruto melihat pemandangan yang sangat menyedihkan ini.
            Tidak hanya manusia biasa, ia juga mengenal banyak mayat yousei yang bergelimpangan di sana.
            “S-Sebenarnya a-apa yang terjadi? Mengapa di sini ada yousei juga?”
            “Ini adalah Perang Dunia Shinobi Pertama, Naruto. Terjadi seratus tahun setelah insiden penyerangan Akio ke Uzumakigakure yang menewaskan adiknya. Yousei ikut ke dalam perang untuk mendinginkan keadaan, tapi sayangnya tujuan awal yang mereka canangkan malah berubah lain. Mereka berbalik menjadi korban.”
            “Tapi ini sadis sekali…,” rintih Naruto.
            “Ini akibat dari bijuu yang datang ke dunia manusia. Sebagian memang ada yang takut dengan kekuatannya yang mengerikan, namun tidak sedikit juga yang menginginkannya; terutama para klan-klan besar shinobi. Mereka saling bunuh demi mendapatkan gulungan yang konon berisi jutsu untuk mengendalikan bijuu.”
            “Hanya untuk mendapatkan segulung kertas yang tidak diketahui kebenarannya?”
            “Ya, karena ada yang memprovokasi.”
            “Siapa?” Naruto mulai penasaran.
            “Coba kau perhatikan seseorang yang berdiri di sana.”
            Pandangan Naruto mengikuti direksi yang Kushina tunjuk. Ia melihat sesosok manusia yang mengenakan pakaian serba hitam berdiri di atas batu yang cukup tinggi. Ia berusaha menerjemahkan apa yang matanya tangkap; yang tampaknya ia kenali. “I-Itu…sharingan…”
            “Dia adalah anak tunggal Akio, Naruto.”
            “A-Apa? Bagaimana bisa? Padahal Akio sama sekali tidak memiliki sharingan, kan?”
            “Sharingan itu baru saja lahir. Akio berubah menjadi seorang pria idaman para wanita. Menipu seorang wanita yang berasal dari Klan Hyuuga, salah satu dari klan kuno di dunia shinobi yang sampai sekarang masih eksis keberadaannya. Ia menikahinya karena hanya untuk memperbaiki dirinya yang dikutuk menjadi Siluman Tengu oleh ayahku.”
            “Ma-Maksudmu…?” kini suara Naruto benar-benar tercekat.
            “Keturunan tunggal Akio itu memiliki kekuatan baru bernama sharingan. Satu doujutsu baru telah lahir. Ia hendak menimbulkan kekacauan kembali.”
            “Kalian semua makhluk bodoh! Sia-sia saja kalian saling menumpahkan darah, tapi tidak mendapatkan apa yang kalian inginkan. Kalau kalian ingin aku memberi tahu pada kalian di mana tempat gulungan sakti itu berada, kalian harus bersedia menjadi pengikutku,” ucap Uchiha yang lahir pertama ke bumi itu.
            Membuat Naruto sampai geram. “Sombongnya memang sudah keturunan ya.” Ia mengingat sahabat lamanya yang merupakan seorang Uchiha juga. “Apa yang Uchiha itu maksud?”
            Mata scarlet Kushina kembali menatap putranya. “Ayo, kita pergi dari sini, Naruto.”
            Naruto menyadari tempat mereka berpijak telah berganti. Di depannya ia melihat pemandangan yang tak jauh berbeda dari Perang Dunia Shinobi Pertama. Matanya melebar, namun lebih melebar lagi ketika ia tahu di mana ia berada saat ini. “U-Uzumakigakure!”
            Kushina memejamkan matanya. “Ya, aku lahir pada saat terjadi kekacauan ini, Naruto.”
            “Bagaimana ini? Kalau terus begini akan lebih banyak korban yang berjatuhan!” Naruto memperhatikan seorang yousei pria yang pakaiannya sudah compang-camping akibat serangan dari musuh.
            “Mereka menyerang Uzumakigakure?”
            Kushina menjawabnya hanya dengan anggukan.
            Terlalu banyak darah, terlalu banyak mayat, terlalu banyak yang terluka. Hal itu hanya membuat lubang kepedihan di dadanya makin melebar. Jadi, yang disebut awal mula kekacauan dunia shinobi adalah seperti ini? Benar-benar kejam sekali.
            “Ayo, kita serang menara berkilau itu. Gulungan jurus rahasia ada di sana!” perintah sang Uchiha pada pengikutnya. Pengikutnya tanpa banyak bertanya mengikuti.
            “Bunuh para yousei! Jangan biarkan mereka tersisa!”
            “Hancurkan tempat ini!”
            “Ya, bakar sampai menjadi abu!”
            Naruto menghalangi cahaya yang menyilaukan mata dengan tangannya. Cahaya itu…adalah kobaran api yang membakar titik pusat Uzumakigakure. Ia lantas menangkap dua sosok yang berdiri di salah satu bangunan Uzumakigakure, yang salah satunya ia kenali sebagai kakeknya.
            Dua sosok itu adalah seorang pria dan wanita. Seorang kakak dan adik angkat yang memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi desa ini dari kehancuran.
“Sayangnya Shi No Ujigami masih betah tertidur. Nii-sama, maafkan aku sepertinya tidak ada cara lain.”
“Apa kau yakin, Ruka? Bagaimana dengan Rin?”
“Aku menitipkannya padamu. Tolong jaga satu-satunya permataku, Nii-sama.”
Siapa wanita berambut merah marun itu? Tanya Naruto dalam hatinya.
Wanita itu kemudian menghentakkan kedua tangannya ke tanah sampai terbentuk pola dua segitiga terbalik berwarna merah jambu yang ujung runcingnya saling bersentuhan. Lantas ia menarik nafas dalam-dalam sebelum meneriakkan sebuah jurus, “Kinjutsu: Jikan o hanten sa seru no jutsu (jurus terlarang: jurus pembalik waktu!).”
Kedua pola segitiga itu kemudian membuka hingga tegak lurus dengan langit. Seketika muncul cahaya merah jambu di seluruh tanah Uzumakigakure. Langitnya yang membiru kelabu pun berubah memerah darah.
“Ada apa ini?”
“Aku tidak tahu!”
“Badanku rasa-rasanya seperti meleleh!”
“Cepat cari dari mana jurus ini berasal!”
Semua terlihat panik, tak terkecuali Uchiha yang sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang jurus ini.
“Bawa Uzumakigakure dan penduduk aslinya ke dimensi lain!” teriak wanita itu lagi. Setelahnya ia memuntahkan darah segar yang membasahi baju miko putihnya yang kini banjir darah.
“Ruka!”
“Selamatkan dunia, Nii-sama. Namárië (selamat tinggal),” ujar Uzumaki Ruka yang menghilang bersamaan dengan tangan-tangan putih yang menggerayangi tubuhnya.
Dan tentu Miyazaki mengenal betul pemilik tangan itu. Ia pun memanjatkan doa seraya memejamkan mata. Ekspresinya mengukirkan pedih yang tak terperi, “Semoga Valar menjaganya dengan baik sampai ke Valinor.
Kedua segitiga itu dengan cepat kembali ke tanah berlawanan dengan arah ketika terbuka, diikuti dengan tanah Uzumakigakure yang tiba-tiba longsor; membuat semua yang di sana panik. Mereka semua terperosok ke dalam tanah. Maka lenguh-lenguhan meminta tolong meletus ke udara karena mereka pikir ini adalah hari pembalasan yang telah lama didongengkan oleh para nenek moyang. Mereka tidak menyangka hari itu akan datang.
Seketika semuanya menjadi hitam. Ketika ada seberkas cahaya datang, para manusia menyadari wilayah peperangan tadi berubah menjadi daratan kosong. Mereka berada di tanah gersang padang pasir berwarna putih; hanya semilir angin yang menemani.
“A-Apa sebenarnya yang terjadi?”
“Di mana kita sekarang?”
“Jurus apa tadi? Dahsyat sekali.”
“Tidak tahu. Mengapa tempat ini menjadi kosong? Kemana para yousei itu pergi?”
“A-Apa kita telah m-mati?”
“Jangan bodoh! Jelas-jelas kita masih hidup!”
“Kalau kau merasa benar, tunjukkan jalan keluar ke tempat ini!”
Manusia-manusia itu saling bertanya dan saling mencaci maki dikarenakan ketidaktahuan mereka. Uchiha yang memimpin peperangan ini pun tidak mengetahui apa-apa. Ia juga baru merasakan  jurus aneh yang ia tidak ketahui sejarahnya itu. Padahal ia sangat tahu tentang seluk-beluk leluhur yang telah membuangnya.
Setelah itu mereka menemukan jalan pulang dengan wajah ditekuk. Kecewa karena usaha habis-habisan mereka gagal total.
“Kelemahan manusia memang mudah terprovokasi, padahal kebenaran saja belum mereka ketahui. Sejak saat itulah yousei tak mau lagi ikut campur dalam permasalahan yang dihadapi oleh manusia. Kami terlanjur dibakar api amarah dan malah berbalik membenci manusia. Akhirnya kami semua memutuskan untuk pergi ke persinggahan terakhir di Valinor,” ucap Kushina pada Naruto.
Setelahnya pewaris Rumah Besar Uzumakigakure itu bercerita seolah-olah kisah ini memang tidak ada ujungnya.
 Meski banyak yousei yang memutuskan untuk pergi ke persinggahan terakhir, ternyata sedikit dari mereka masih ada rasa peduli terhadap manusia-manusia lemah yang sebenarnya masih memerlukan tuntunan. Untuk itu beberapa yousei, memutuskan untuk tetap bertahan di desa mereka. Salah satunya Uzumaki Mito—dayang-dayang rumah besar Uzumaki—yang merupakan keturunan Akira, yang nantinya menikah dengan Senju Hashirama. Mereka bermaksud menebus kesalahan itu.
Uzumaki Kushina dan Uzumaki Rin yang saat itu masih belia, kabur dari rombongan yang akan pergi ke Valinor untuk membantu sesepuh mereka mengendalikan kekuatan bijuu. Meski pada saat itu mereka tidak paham bagaimana caranya mengembalikan bijuu ke Lingkar Luar Uzumakigakure. Dan tentunya hal tersebut membuat Uzumaki Miyazaki ikut membatalkan perjalanannya ke Valinor demi anaknya tercinta.
Naruto sampai tertegun mendengarnya karena ada satu deret nama yang ia kenali…Senju Hashirama.
“Dulu kami berpikir, menyegel bijuu itu sendiri ke dalam tubuh kami adalah hal yang tepat. Namun dengan begitu banyak pengorbanan yang kami lakukan, tetap saja peperangan masih saja menghantui dunia shinobi yang penuh dengan kebencian dan kedengkian ini. Untuk itulah kami yang tersisa sekarang, kembali ke tengah-tengah peperangan. Dengan kekuatan kami, kami bermaksud menyegel bijuu-bijuu ke tempat asal mereka. Karena kami adalah satu-satunya harapan…dan mungkin sekarang kau yang akan menjadi harapan kami, Naruto,” Kushina memejamkan matanya sejenak.
            “Ada yang aku tidak mengerti,” Naruto mulai mengalihkan pembicaraan, rupanya ada hal lain yang menarik perhatiannya.
            “Kenapa, Naruto?”
            “Senju Hashirama menikah dengan yousei? Itu kedengaran aneh di telingaku. Apakah bagi kalian para yousei itu hal yang dibolehkan?” entah mengapa Naruto menanyakan hal ini. Rasa-rasanya ada yang mengganjal di hatinya.
            “Ya, itu adalah terlarang. Karenanya Uzumaki Mito rela menjadi manusia utuh, memilih tinggal di dunia fana. Yang tersisa hanyalah kekuatannya untuk menahan dan mengendalikan bijuu. Berbeda denganku yang tidak bisa menjadi manusia seutuhnya sebab ada yang tidak rela.”
            Naruto mengerutkan dahinya. “Jadi aku ini—”
            “Kau adalah Peredil, setengah yousei dan manusia.”
            “Bagaimana bisa? Aku tidak mengerti. Kalau aku memang Peredil mengapa sejak lahir yang aku ketahui aku adalah manusia biasa?”
            “Maka dari itu sekarang aku akan menunjukkan sesuatu padamu, Naruto.”
            “Perjalanan kita belum selesai?”
            Kushina menggelengkan kepalanya dengan senyuman tipis. Ia lantas mengibaskan tangannya ke atas. Seketika suasana berubah kembali.
            “Kau ingin mengetahui kisah cintaku dengan Minato, kan?”
            “Eh?” Naruto memandangi Kushina dengan mata melotot.
            “Pertemuan pertama kami tidak ada yang istimewa, tapi aku bisa menjamin kisah cinta kami ini layak dijadikan novel lho,” canda Kushina terkikih.
            Dengan terburu-buru Naruto memandangi sekitarnya. Ia pun sadar bahwa kini ia berada di sebuah ruang kelas yang sepertinya tidak asing baginya. “I-Ini pekarangan akademi ninja.” Kemudian ia memperhatikan seorang gadis kecil berumur 13 tahun dikerumuni oleh sejumlah anak laki-laki yang umurnya tak jauh berbeda.
            “Hei, apakah benar di dalam tubuhmu ada kekuatan monster, Kepala Tomat? Kok kedengarannya menakutkan sekali, ya? Hahaha.”
            “Ayo, tunjukkan kekuatan dahsyatmu itu, apa kau bisa menghancurkan pohon di belakang kami ini?”
            “Ah, palingan bohong. Kepala Tomat ini adalah perempuan yang payah, nilainya saja nyaris nol semua. Hahaha.”
            “Dan bercita-cita menjadi Hokage? Itu adalah cita-cita yang konyol sekali!”
            Gadis kecil itu terdiam menahan amarah. “Apa aku kacaukan peredaran darah mereka saja biar nafas mereka sesak? Tapi kalau menggunakan kekuatan andalanku, aku akan membuka rupa asliku,” bisiknya pelan.
            Naruto yang mendengarnya maju beberapa langkah. “Apa maksudnya?”
            “Aku memiliki kekuatan khas yang tidak dimiliki oleh semua orang. Masing-masing yousei memiliki kekuatan khas. Tapi kalau digunakan rupa yousei-ku akan terlihat.”
            “Mengapa kau bisa ada di sini?”
            “Ya…karena aku ingin menggantikan tugas Mito-san yang menjadi Jinchuuriki Kyuubi pertama di Konohagakure.”
            “Ja-Jangan…”
            “Ya, sebelum dirimu, akulah yang menjadi Jinchuuriki Kyuubi, Naruto.” Kushina membeberkannya tanpa beban. Lagi pula hal itu sudah lama sekali berlalu. Jadi tidak ada yang perlu disesali.
            Leher Naruto serasa dicekik. “I-Itulah mengapa m-mereka mengolok-ngolokmu?” tanyanya dalam bisikan, merasa miris karena wanita yang mengaku sebagai ibunya itu bernasib sama dengannya.
            “Pergi kalian!” Kushina kecil melempar anak-anak nakal itu dengan tomat yang ia keluarkan dengan jurusnya. Dengan ini rasanya cukup.
            “Ah, beraninya kau melawan kami. Ayo, teman-teman kita sekap Kushina di rumah angker dekat rumahku! Biar setan di sana mengganggunya! Hahaha!” salah satu dari anak nakal itu siap-siap menjerat Kushina dengan tali. Diikuti dengan teman-temannya yang hendak menyerang Kushina dari segala arah.
            “Apa boleh buat, tidak ada cara lain.” Kushina hampir saja ingin memperlihatkan kebolehannya dalam bertarung, namun sebelum itu, anak-anak yang mengganggunya dilempari dengan tomat secara bersamaan.
            “Waaa!!!” teriak anak-anak nakal itu yang tersungkur ke tanah karena serangan tomat ke arah kepala mereka.
            “Tolol, beraninya melawan perempuan,” hardik seseorang yang bertengger di pohon.
            Naruto melihatnya dengan saksama. Semangatnya langsung naik berpuluh-puluh kali lipat ketika menyadari siapa seseorang itu, “Ah! Otou-san!” teriaknya seraya menunjuk ke arah Minato kecil yang sedang berusaha bergaya se-cool mungkin.
            “Huh, si Pahlawan Kesiangan Minato,” gerutu salah satu dari anak nakal itu.
            “Akan kulaporkan pada Kepala Akademi, biar kalian disuruh membersihkan WC selama dua bulan.”
            Mendengarnya, anak-anak itu lari tunggang-langgang. Tak mau hal yang terjadi sekitar tiga bulan yang lalu terulang kembali. Karena WC akademi sangat-sangat bau dan menjijikan.
            Setelah para pengganggu itu pergi, Minato kecil pun turun dari pohon menghampiri Kushina. “Hei, kau tidak apa-apa?”
            “Kenapa repot-repot segala? Aku tak akan mengucapkan terima kasih kepadamu,” ucap Kushina dengan raut judes. Ia membuang muka dengan sengaja.
            “Rupanya kau sangat galak ya?” Naruto melirik dongkol pada wanita yousei di sampingnnya. Tidak terima ayahnya diperlakukan seperti itu.
            “Ahaha! Apa boleh buat, aku menganggapnya sangat menyebalkan dan sok hebat.” Kushina tertawa dengan sedikit rasa bersalah. Takut-takut Naruto memandang negatif padanya, padahal ini baru di permulaan cerita.
            “Eh? Padahal aku sudah berusaha baik padamu. Tapi sepertinya kau memperlakukan semua orang sama rata. Seharusnya kau bisa bersikap lebih baik dengan orang yang tulus ingin menjadi temanmu,” Minato kecil mengucapkannya dengan raut wajah yang polos sekali dengan senyuman selebar mungkin. Seolah-olah yang ia katakan memang berasal dari hati.
            Sampai-sampai Naruto ternganga dibuatnya.
“Terserah! Aku tidak sudi berteman dengan anak aneh sepertimu!” umpat Kushina kecil yang segera lari ke arah hutan, meninggalkan Minato yang terdiam di tempatnya.
“Haah, keras kepala juga dia.”
Bersambung…

Share:

0 komentar