Kembalinya Klan Peri Klan Uzumaki Chapter 11

Kembalinya Klan Peri Klan Uzumaki
Naruto © Masashi Kishimoto
The Lord of The Rings © J.R.R Tolkien
Warning: Sequel from ‘HEART’. Semi-Canon. Alternate Reality. Semi-Crossover with The Lord of The Rings. Romance/Adventure. A bit Fantasy. OOC

Pairing insert: Naru/Saku, Mina/Kushi, Sasu/Hina, Shika/Ino, Kaka/Kure
“Biarkan Shikamaru sendiri dulu, Ino. Ia perlu menenangkan dirinya. Kau tidak ingin membuatnya tambah pusing, kan?” ucap Chouji yang paham betul tabiat sahabatnya itu. Ia sendiri di dalam hati berdoa semoga esok hari semua akan kembali sebagaimana mestinya. Walau tampaknya setelah ini jalannya akan penuh dengan kerikil-kerikil tajam
.
Chapter 10
Pertarungan Dua Yousei
.
.
Hutan itu malam ini tampak mencekam. Gelap menyapu seluruh permukaan hutan, ditambah dengan keberadaan tiga orang shinobi yang paling dianggap berbahaya di dunia ini. Mereka sedang mengatur strategi. Tampaknya sebentar lagi akan ada pertarungan besar. Dan tidak akan ada yang bisa menghentikan niat jahat mereka.
“Kau ingin menghancurkan kelima Negara Elemental, kan? Kalau begitu kau memerlukan pasukan yang banyak,” ujar Kabuto merapalkan sebuah jutsu doton. Ia membuka sebuah tempat yang selama ini di segelnya. “Memanggil Sembilan Iblis Berjubah Hitam tidaklah cukup.”
“Apa yang kauinginkan sebenarnya dariku? Sampai-sampai mau bergabung denganku,” tanya Madara dengan nada ketus.
“Kau selalu curiga ya, Tuan Madara. Aku sudah bilang kan bahwa aku menginginkan Uchiha Sasuke? Aku ingin kau membantuku untuk membunuhnya.”
“Hmm, penawaran yang tidak seimbang.”
Kabuto lalu tertawa dengan lantang.  “Kau menginginkan aku meminta lebih? Padahal aku yakin sekali kau akan melindungi Sasuke untuk kepentinganmu. Maka dari itu hanya itu yang aku inginkan. Aku ingin kau membuang seseorang yang sangat bermanfaat bagimu itu.”
“Cih, Sasuke sudah tidak bermanfaat bagiku. Mau kau apakan dia aku tidak peduli,” jawab Madara tegas. Tempat itu terbuka sepenuhnya, ia, Zetsu, dan Kisame mengikuti Kabuto dari belakang.
Di sana mereka menemukan tabung-tabung raksasa yang entah berisi apa. Cukup banyak. “Ini adalah tempat Tuan Orochimaru melakukan berbagai macam percobaan. Aku ingin mengambil gulungan jutsu terlarang di sini.” Kabuto pun menghilang dari pandangan mereka bertiga.
“Tuan Madara, apa dia bisa dipercaya?” tanya Kisame setelah Kabuto lindap di sekitar mereka.
“Untuk saat ini aku mempercayainya. Lagi pula aku membutuhkan apa yang dia tawarkan,” tukas Madara tanpa ragu.
Kabuto pun kembali muncul. “Ah, sudah kutemukan. Aku akan melakukan edotensei. Kita akan membangunkan yang sudah mati untuk membantu kita.”
Madara hanya terpaku mendengarnya. Ia sudah menduga jika Kabuto memiliki ide gila seperti ini. Ia mengatupkan mata rapat-rapat dan menatap Kabuto dengan mata setajam elang. “Baiklah kalau itu rencanamu. Aku akan membantumu membunuh Sasuke.” Ia lalu beranjak pergi dari sana diikuti Zetsu dan Kisame. “Jangan sampai gagal.”
“Kau juga jangan sampai gagal, Tuan Madara.”
Madara tersernyum sinis di balik topengnya. “Hn. Jangan meremehkan aku. Akan kubawa mayat Sasuke ke sini.”
“Aku akan menanti,” ujar Kabuto menyeringai kejam.
.
o0o
.
Di Uzumakigakure saat ini sedang siang hari. Matahari menunjukkan kuasanya di langit sana. Membuat Uzumaki Naruto mandi keringat. Ia dan Kushina sedang berlari-lari di atas batang-batang pohon raksasa yang tumbuh lebat di kampung halaman ibunya itu. Ini latihan dasar untuk mengembalikan fungsi otot-ototnya yang cukup lama tidak digerakkan.
“Cepat sekali,” ujar Naruto terengah-engah. Ia memperhatikan ibunya yang berada di depannya.
Rambut Kushina dikuncir kuda. Ia mengenakan obi berwarna merah tanpa lengan yang panjangnya hanya sepinggang, dipadukan dengan celana ketat pendek berwarna biru tua. Kakinya dilapisi dengan sandal ninja yang menutupinya hampir ke lutut.
“Ayo, Naruto susul aku!” teriak Kushina dengan lantang. Ia tertawa melihat anaknya kelelahan. Ia lalu turun ke batang yang lebih rendah tingginya dengan bersalto. “Kau harus berlari sampai pingsan.”
“Cih, yang benar saja,” gerutu Naruto. Tak mau kalah, ia lalu mempercepat larinya untuk menyusul Kushina.
Yang tidak mereka berdua sadari, Uzumaki Miyazaki memperhatikan mereka dari menara Rumah Besar Uzumakigakure. “Tampaknya setelah ini aku bisa mengajarinya jurus itu,” gumamnya.
.
o0o
.
Langit di Konohagakure sedang dikuasai malam. Kurenai tidak bia tertidur saat itu, ia memperhatikan Kakashi yang sedang tertidur pulas sembari memeluk Hiruzen yang tertidur di antara mereka. Tadinya Kurenai akan menaruh Hiruzen di keranjang tidurnya, tetapi Kakashi meminta agar Hiruzen tidur bersama dengan mereka. Tapi selama ini juga mereka jarang tidur bersama.
Kurenai tahu betul mengapa Kakashi memilih untuk tidur di rumahnya. Hal tersebut biasa Kakashi lakukan jika ia sedang dirudung masalah. Ia tentu saja tahu betul apa yang sedang dihadapi suaminya itu. Dulu Kakashi sudah kehilangan orang-orang yang berharga bagi dirinya. Dan sebentar lagi ia akan kehilangan satu lagi, yaitu muridnya, Sasuke. Padahal baru saja ia kehilangan Naruto.
Kurenai tentu saja sangat mengerti apa yang sedang Kakashi rasakan sekarang. Ia juga pernah mengalami masa-masa sulit setelah Asuma meninggal, namun tak lama Kakashi datang ke kehidupannya menawarkan kebahagiaan.  “Aku akan berada di sisimu selalu, Kakashi.” Ia memperhatikan wajah lelap Kakashi yang begitu tenang; lalu mengibaskan rambut yang menutupi matanya. Senyuman mengembang dari bibirnya. “Badai akan berlalu, Kakashi. Cepat ataupun lambat….” Ia mencium dahi Kakashi dan Hiruzen sebelum menyusul mereka ke alam mimpi.
.
o0o
.
“Kalian sudah mempersiapkan semuanya, kan?”
Di depan Tsunade, berdiri Shikamaru dan Yamato yang malam itu mendapatkan tugas khusus dari Tsunade.
Shikamaru mengangguk. “Ya, tapi kali ini tampaknya akan berisiko. Para Kage dari empat desa lain juga akan datang melihat eksekusi Sasuke. Selain perang saudara akan terjadi, kemungkinan kita bisa mendapat serangan juga dari keempat desa itu. Apa Anda sungguh-sungguh telah memutuskannya?”
Tsunade terdiam sembari menatap Shikamaru. Ia tahu betul bahwa si ninja jenius itu menginginkan Sasuke dihukum mati saja, tapi alasan mengapa Shikamaru bersikap seperi itu ia sendiri tidak tahu. “Sebenarnya aku sependapat denganmu, tetapi aku melakukan ini bukan untuk Sasuke….”
Shikamaru dan Yamato pun menyadari maksud dari Tsunade itu.
“Anda melakukannya untuk Naruto?” tanya Yamato untuk memastikan.
Tsunade memejamkan matanya dan mengangguk perlahan. “Lagi pula aku memiliki alasan lain. Kalian pasti ingin mengetahui kudeta yang dilakukan Klan Uchiha hingga membuat mereka dibantai massal, kan?”
Shikamaru dan Yamato menatap Tsunade dengan tatapan tajam.
“Sasuke pasti mengetahuinya. Karena itu dia dibutuhkan untuk dilakukan investigasi. Jadi bagaimana, Shikamaru? Apa teman-temanmu sudah siap?”
Shikamaru mengangguk.
Pandangan Tsunade lalu beralih pada Yamato. “Bagaimana dengan Kelompok Hitam ANBU, Yamato?”
“Mereka sudah mengetahui apa yang harus mereka lakukan.”
“Bagus,” ujar Tsunade tersenyum tipis. Ia lalu berdiri dan beranjak ke jendela. “Sebentar lagi akan pertumpahan darah di sini, tapi aku berharap darah itu tidak akan berakhir sia-sia.”
.
o0o
.
Sasuke belum bisa memejamkan matanya malam itu. Ia mengamati bulan yang cahayanya samar-samar masuk ke dalam ruang penjaranya yang begitu sempit dan minim udara. Bulannya penuh, indah sekali. Ia tahu betul sebentar lagi ia akan mati, tetapi dari lubuk hatinya yang terdalam sebenarnya ia ingin masih hidup. Ada banyak hal yang harus ia perbaiki. Tapi jika kematian yang lebih memilihnya, maka apa yang bisa ia lakukan?
“Apa yang kaulakukan di luar sana, Naruto? Kau masih hidup, kan?” tanyanya pada angin.
“Sasuke-kun.”
Sasuke langsung berdiri dari tempat tidurnya ketika ia mendengar seseorang memanggilnya. Ia memandangi jeruji besi yang di baliknya hanya ada kegelapan. “Siapa?”
Sesosok manusia bercadar mendekat ke arah jeruji. Ia membuka cadarnya sehingga wajahnya terlihat jelas. “Ini aku….”
“Hinata…,” ucap Sasuke terheran-heran. “Ada apa? Bagaimana kau bisa masuk? Penjara ini dijaga sangat ketat.”
“Jangan meremehkan Klan Hyuuga, Uchiha.” Sesosok manusia lain muncul di samping Hinata. Itu adalah Neji.
“Siapa kau?” Tetapi Sasuke tidak mengenalinya. Mungkin karena ia terlalu lama tidak berada di Konoha.
“Hh, kau tak perlu tahu—”
“Dia adalah Hyuuga Neji. Kakak sepupuku,” jawab Hinata memotong ucapan Neji. Ia tahu jika kakak sepupunya tidak menyukai Sasuke. Tetapi setidaknya mereka tidak bertengkar di saat yang genting begini.
“Pada hari eksekusi nanti, kami akan menyelamatkanmu, karena itu kami harap kau mau berkerja sama, Sasuke-kun,” jelas Hinata.
“Eh?” Sasuke terperanjat mendengarnya. “Mengapa kalian ingin menyelamatkanku?”
“Ini perintah dari Godaime. Kalau beliau tidak memerintahkan, pasti aku tidak akan mau,” tukas Neji ketus. Ia memperhatikan Sasuke dari atas ke bawah dengan raut sinis. Ia lalu menyadari bandul aquamarine melingkar di leher keturunan Uchiha terakhir itu. Kalungnya…. Bagaimana bisa ada di leher si Uchiha itu?
Hinata menghembuskan napasnya perlahan. “Neji-niisan,” ucapnya pelan, yang artinya memohon Neji untuk diam. Ia lalu kembali memandangi Sasuke. “Kau harus mempersiapkan diri, Sasuke-kun.”
“Hn,” sahut Sasuke.
“Cih, Dasar Uchiha tidak tahu terima kasih,” geram Neji. Kalau tidak ada jeruji besi di sana, ia pasti sudah membantai Sasuke dengan tenketsu-nya.
“Aku tidak meminta kalian menyelamatkanku. Itu adalah keinginan kalian,” balas Sasuke tak kalah ketus.
“Kalau begitu kau mau melakukannya demi Naruto-kun, kan, Sasuke-kun?” pinta Hinata. Ia berusaha agar keturunan Uchiha terakhir itu mau diajak bekerja sama saat hari eksekusi nanti. Kalau tidak, maka apa yang telah mereka persiapkan ini akan sia-sia.
Sasuke menatap datar Hinata yang ia sadari matanya telah berair di ujungnya.
“Aku tidak akan mengingkari janjiku pada Naruto-kun. Aku akan melindungimu.”
Alis Sasuke terangkat sedikit. “Gadis yang sedang jatuh cinta memang menyeramkan.”
Sampai-sampai membuat Hinata terkejut dengan ucapan tak mengenakan Sasuke itu.
Neji sendiri kembali membentengi diri agar kesabarannya tidak habis. Uchiha ini memang sombong!
“Terserah kalian. Aku tak peduli. Kalau nanti terjadi apa-apa, kalian yang akan menanggungnya. Bukan aku,” lanjut Sasuke tidak peduli. Ia lalu kembali berjalan ke tempat tidurnya. “Kalian pergi saja, aku ingin tidur.” Ia malah berbaring dan memejamkan mata.
“Cih, aku akan membuatmu berlutut di depanku untuk berterima kasih, Uchiha. Lihat saja! Ayo, Hinata-sama. Kita pergi dari sini.” Neji yang dirudung emosi, memaksa Hinata pergi dari penjara itu.
Namun, sebelum menghilang dari sana Hinata berujar. “Jangan membuat kematian Naruto-kun sia-sia, Sasuke-kun.”
Sasuke yang mendengarnya pun membuka mata. Ia kembali duduk dan menyadari kedua Hyuuga itu telah lindap dari sana.
Sementara itu Hinata dan Neji keluar dari penjara diam-diam. Mereka telah membuat tidur para penjaga, dan setelah bangun dijamin para penjaga itu akan lupa apa yang terjadi sebelum mereka tertidur.
Neji telah memberikan mereka serbuk ajaib untuk melancarkan misi ini. Setelah agal menjauh dari penjara ia menghentikan langkahnya. “Hinata-sama….”
Hinata pun menghentikan langkahnya dan berpaling pada Neji. “Ada apa, Neji-niisan?”
“Mengapa kau memberikan kalung berhargamu pada Uchiha Sialan itu?”
Mata Hinata melebar, lalu ia menunduk sembari memandangi kakinya sendiri. “Aku hanya tidak ingin ada teman kita yang mati lagi.”
“Tapi itu milik mendiang Hikari­-sama. Uchiha Sialan itu tidak pantas mendapatkannya.”
Sejurus Hinata membalikkan badannnya menghadap pada Neji. “Apa kau tidak tahu, Neji-niisan?”
“Tidak tahu apa?”
“Kalung itu adalah milik Klan Uchiha.”
Mata Neji pun membuka dua kali lipat. Ia lalu menghembuskan napas kuat-kuat. “Ya, tentu saja aku tahu. Aku hanya lupa….” Mereka pun melanjutkan perjalanan ke rumah dalam diam.
.
o0o
.
“Akhirnya rapatnya selesai juga.”
Shikamaru yang baru keluar dari ruangan Hokage menyadari jika Ino berada di sana entah sejak kapan. “Mau apa?” tanyanya dingin.
“Ibumu bilang kau akan menginap di Menara Investigasi, aku dimintai tolongnya untuk mengantarkan ini.” Ino lalu menyerahkan kotak bento yang dibungkus kain. “Baru dimasak, jadi kau harus cepat-cepat memakannya.”
Dahi Shikamaru mengerut. Ia lalu mengambil kotak bento itu dengan cepat. “Terima kasih,” ucapnya tanpa memandangi Ino dan pergi menjauhinya.
Tetapi Ino mencegatnya dengan memegang lengan Shikamaru dengan kuat. “Kau tidak sendirian, Shikamaru. Itu yang harus kauingat.”
Shikamaru terang saja tercengang sembari melihat tangan Ino yang menggenggam lengannya. Ia menatap Ino dengan sekilas dan keheranan melihat teman setimnya itu tiba-tiba jadi memperhatikannya. Namun ia tidak mau terbawa suasana, dengan paksa ia melepaskan tangan Ino dari lengannya dan segera pergi dari sana. “Merepotkan. Pulanglah Ino, hari sudah larut. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku.”
Ino lalu memandangi punggung besar Shikamaru yang perlahan-lahan menjauhinya. Tanpa sadar bulir-bulir air mata jatuh di pipinya. “Kenapa aku tidak berani mengatakan kalau bento itu aku sendiri yang membuatnya?”
Sementara itu Shikamaru yang sedang berjalan keluar dari Menara Hokage memandangi kotak bento di tangannya dengan perasaan yang tak menentu. “Ini bukan buatan ibuku. Kenapa aku sudi menerimanya?” tanyanya pada diri sendiri. Ia ingat betul ia hanya berkata akan rapat di Menara Hokage pada ibunya, bukan menginap di Menara Investigasi. Ia tahu betul jika bento itu Ino yang membuatnya.
Tadinya Shikamaru ingin membuang bento itu, tetapi akhirnya ia urung lakukan karena ia memang sangat lapar. Ia memandangi langit malam di atas sana yang minim bintang. “Syukurlah aku bisa mengucapkan terima kasih padanya….” Rasa-rasanya malam ini tidak terlalu buruk.
.
o0o
.
Sakura baru saja selesai berendam. Ia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kimono bermotif bunga sakura. Warnanya setali tiga uang dengan warna rambutnya sendiri. Ia berpikir air akan membuat pikirannya tenang, dan membuang segala kekalutannya. Tapi ia salah besar. Hatinya tetap dibalut kegelisahan.
Perlahan, Sakura melangkahkan kakinya ke jendela yang tertutup, ia tidak akan membukanya karena tahu di luar sana begitu dingin. Ia memandangi pantulan dirinya sendiri yang ada di jendela dengan wajah mendung. “Aku begitu lusuh, padahal sudah mandi,” bisiknya.
Sakura lalu mendekati bibirnya ke kaca jendela. “Aku tidak akan membiarkan upacara kematian Naruto berlangsung.” Ia lalu menghembuskan udara pada kaca itu sehingga berembun. Kemudian ia bawa tangannya menyentuh kaca, menggambar sesuatu di sana dengan bantuan embun yang tadi diciptakannya sendiri. Ia membentuk wajah Naruto di sana….
“Aku merindukanmu, Naruto. Dan aku percaya bahwa kau masih hidup.” Sakura lalu menangis tersedu-sedu. “Kau mencintaiku, kan? Aku juga mencintaimu, tahu!” teriaknya seraya memukul-mukul jendela. Jendela itu bergetar menimbulkan suara gemuruh. Tapi tidak menyaingi gemuruh di hati yang menggoyahkannya saat ini.
  .
o0o
.
“Capeknya…!” seru Naruto seraya membaringkan tubuhnya di atas rerumputan. Ia betul-betul kelelahan setelah seharian berlari dari pohon ke pohon yang lain. Selain itu berkali-kali ia juga terpeleset. Ia belum bisa mengontrol cakranya dengan baik.
Kushina yang duduk di sebelahnya membanjurkan air ke wajah Naruto hingga membuat anaknya itu terkaget-kaget.
“Fuah! Kaa-sama, seharusnya kau bilang-bilang dulu kalau ingin memberiku air!” Sejurus Naruto mengusap-usap wajahnya yang dibanjiri air, ia lalu menatap Kushina dengan tatapan kesal.
“Segar, kan?” tanya Kushina seraya tertawa terbahak-bahak. Menurutnya ekspresi Naruto sangat lucu.
Naruto lalu mencari sumber air, matanya kemudian menemukan kolam air yang berjarak sekitar sepuluh meter darinya. Sekarang yang ia butuhkan adalah wadah. Naruto hendak mengambil wadah yang Kushina gunakan, tetapi di cari ke mana pun wadah itu tidak ada. Ia berputar-putar di tempatnya sendiri.
“Kau mencari apa, Naruto?” tanya Kushina tampak heran melihat tingkah laku anaknya.
“Kau mengambil air di sana dengan apa, Kaa-sama?” tanya Naruto sembari menunjuk ke arah kolam.
“Oh,” Kushina melepaskan ikatan di rambutnya dan membiarkan rambut merah darahnya tergerai. “Aku menggunakan kekuatanku.”
“Ah, curang,” ujar Naruto yang langsung berwajah kecut.
Kedua alis Kushina terangkat. “Kau mau membalas dendam ya?” ujarnya sambil menyentuh hidung Naruto dengan telunjuknya. Tangan kanannya kemudian mengarah pada kolam itu, ia menjetikkan jarinya. Dalam waktu singkat air di kolam berpindah ke tangannya dalam bentuk bola seukuran sepak bola.
Naruto terang saja tercengang melihatnya. “Kau melakukannya tanpa merapalkan jutsu?”
Kushina tersenyum. “Sepertinya kau sudah kuberi tahu, Naruto. Ini adalah kelebihan yousei. Mereka dapat mengeluarkan jurus tanpa merapalkannya terlebih dahulu.” Ia memandangi bola air yang berada di tangannya. “Tetapi itu pun buat mereka yang berhasil membuang minimal lima dari ketujuh dosa tak terampuni.”
“Ketujuh dosa tak terampuni?” tanya Naruto yang wajahnya berubah penasaran.
“Nanti akan kujelaskan. Tapi sebelumnya….” Kushina lantas kembali melemparkan bola air itu ke wajah Naruto. “Kena!”
“Grrr! Kaa-sama!” Membuat Naruto merajuk di tempatnya. Tangannya memukul-mukul tanah karena kesal dengan sikap kekanak-kanakan ibunya. Padahal ia sendiri sedang berperilaku seperti anak-anak yang dijahili.
Sementara itu Kushina terpingkal-pingkal melihat tingkah laku anaknya. Maklum saja, ia telah melewatkan masa kecil Naruto yang sebenarnya begitu suram. Karena itu saat ini adalah waktu yang tepat untuk bermain-main dengan Naruto, meski sebenarnya anak semata wayangnya itu telah beranjak remaja.
“Bagaimana kalau aku yang menjelaskannya, Kushina?”
Kushina dan Naruto sejurus diam di tempat ketika mendengar suara itu. Mereka berbarengan menengok ke sumber suara.
Terlebih Kushina, ia agak terkejut melihat ayahnya berada di sini. “Ada.”
“Aku pikir tubuh Naruto sudah pulih sepenuhnya. Ia hanya belum terbiasa menggerakkan badannya sampai di ambang batas kemampuan. Kemampuan tidak di situ saja, kan, Naruto?”
Naruto memandangi kakeknya dengan saksama. Ia seperti mengenal suara itu. Suara itu bukan pertama kali ia dengar sekarang. “Tentu saja. Aku pernah belajar senjutsu.
Senjutsu, eh? Di luar dugaanku,” ungkap Miyazaki, lalu menanggalkan pakaian atasnya. “Baiklah. Kita pemanasan dulu. Kalau kau pernah belajar senjutsu minimal kau bisa mempertahankan diri. ” Ia lalu mengayunkan tangan kanannya yang mengepal ke arah Naruto.
Naruto yang tidak tahu bahwa ia akan mendapatkan serangan tiba-tiba itu terang saja terpental beberapa meter. “Uaaa…!”
Ada!” seru Kushina yang tidak setuju dengan tindak tanduk ayahnya.
“Kau terlalu memanjakan Naruto, Kushina. Serahkan dia padaku. Kau hanya memperlambat proses belajarnya. Jangan memperlakukan Naruto seperti anak-anak yang baru belajar berjalan.”
Kushina pun memasang wajah cemberut. “Tapi Ada Naruto belum sembuh benar.”
Namun Miyazaki tidak mempedulikan apa yang dikatakan anaknya. Ia malah memperhatikan Naruto yang berdiri perlahan sembari meringis kesakitan. “Bagaimana Naruto? Kau dapat merasakannya, kan? Inilah kekuatan yousei.”
“Huh,” gerutu Naruto sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit karena berbenturan dengan tanah. “Apa itu tadi? Aku sama sekali tidak melihat apa-apa.”
“Elemen angin.”
“Eh?” sahut Naruto tercengang. Pantas saja begitu kuat. Untung aku tidak sampai tercabik-cabik.
“Apa kau pernah melakukan tes elemen yang kau miliki, Naruto?”
Naruto mengangguk. “Aku memiliki elemen angin.”
Miyazaki tersenyum tipis. “Bagus. Kebetulan akulah yang paling ahli mengendalikan elemen angin di sini. Jadi, bersiaplah, Naruto.” Ia melakukan kuda-kuda untuk melakukan serangan lagi. “Aku akan membuatmu babak belur, ssebelum menjelaskan tujuh dosa tidak terampuni kepadamu.”
Naruto terang saja was was mendengarnya. Apa yang ia inginkan sebenarnya? Satu-satunya cara saat ini adalah menghindar.
Sementara itu Kushina hanya menatap tanpa ekspresi kakek dan cucu itu. Tetapi setelahnya matanya malah berbinar-binar. “Tampaknya bakal seru,” ujarnya cekikikan. Ia lalu melihat ke beberapa dahan pohon di atas sana. “Sebaiknya aku melihat dari jauh saja.” Ia pun melompat ke dahan yang cukup besar dan duduk di atasnya. “Aku percayakan Naruto padamu, Ada,” bisiknya.
Miyazaki pun mengayunkan tangannya yang terkepal kembali ke arah Naruto, tapi dengan cepat Naruto menghindar seraya melakukan salto dua kali ke kanan. Yang tidak Naruto sadari, tangan kakeknya yang lain melakukan hal yang sama. Ia pun tidak sempat menghindar dan terkena serangan angin yang dahsyat sehingga membuat tubuhnya terpental dan membentur pohon raksasa yang tumbuh subur di sana.
Naruto sontak mengerang kesakitan. “Ugh, sialan! Baru segitu saja aku dapat terkecoh. Sepertinya tubuhku belum sembuh benar.” Ia lalu memandangi Miyazaki dengan mata memicing. Pandangannya agak kabur karena benturan tadi.
“Kenapa, Naruto? Apa kau mengaku kalah?” tanya Miyazaki dengan nada tinggi.
Naruto pun memandangi kakeknya dengan wajah merah padam. “Tapi bukan Uzumaki Naruto namanya kalau menyerah begitu saja.” Ia pun berencana mengeluarkan jurus andalannya. “Aku akan mencoba menggunakan senjutsu. Kagebunshin no jutsu.” Setelah itu muncul sepuluh klon Naruto. Ia lalu memberi perintah pada tiga klon. “Kalian bersemedilah untuk memunculkan senjutsu. Sisanya bantu aku melawan Kakek.” Ia pun membentuk sebuah rasengan dengan bantuan satu klonnya.
Kushina berdecak gembira melihat anaknya mengeluarkan jurus itu. “Wahaa, Naruto! Kau ternyata bisa melakukan jurus yang dibuat Minato! Jangan mau kalah, Naruto…!” serunya dengan lantang.
Miyazaki yang melihat perlawanan Naruto tersenyum tipis. Sepertinya pertarungan ini akan menjadi sangat menarik. Ia kemudian menatap Naruto yang berlari ke arahnya dengan sebuah rasengan di tangan. Hmm, gerakannya terlalu muda dibaca. Ia lalu membawa tangannya ke tanah untuk menopang tubuhnya yang berputar; satu kakinya menendang satu klon Naruto yang kemudian pada akhirnya menghilang. Tapi tak hanya di situ, ia menahan kedua tangan cucunya itu dengan kuat, lalu mengangkat tubuhnya dan melemparkannya ke sembarang arah.
“Wohoo! Ada memang hebat! Hidup Ada!” seru Kushina lagi yang kini malah menyemangati ayahnya.
“Sialan!” umpat Naruto yang kesal karena belum menyerang saja kakeknya malah membuat perlawanan duluan. Kaa-sama sebenarnya berpihak pada siapa, sih? Gerutunya dalam hati. Tetapi tak lama ia pun menghilang.
Mata Miyazaki membuka lebar. “Dua-duanya klon?” Ia lalu menyadari aura berbahaya yang berada di belakangnya.
“Rasakan ini!” Kali ini Naruto yang asli kembali menyerang Miyazaki dengan rasengan. Ia berlalri dengan cepat ke arah kakeknya.
Miyazaki pun buru-buru mengeluarkan jurus andalannya. Taktik yang bagus, tetapi aku lebih kuat. Ia lalu mengubah tubuhnya menjadi asap.
Naruto pun merasa seperti menembus sebuah roh yang keluar dari jasadnya. “Asap?” Ia ingin menoleh ke belakang. Tetapi terlambat. Kakeknya kembali mengayunkan tangannya untuk mengeluarkan jurus elemen angin.
Membuat Naruto terlempar kembali beberapa meter. “Aduh! Duh!” erangnya. Ia mencoba berdiri, tetapi sepertinya tulang rusuknya ada yang patah, ia merasa ada yang sakit di sekitar dada.
“Kali ini tampaknya kau sudah sangat kelelahan, Naruto,” ucap Miyazaki yang memandangi Naruto dengan wajah menantang.
Naruto lalu membuang ludah darahnya ke sembarang arah. “Heh. Aku belum kalah, tahu,” ujarnya penuh percaya diri.
Mata Miyazaki pun melebar dari biasanya. Ia seperti tidak bisa berkutik di tempat. Seperti ada mantra magis yang membuatnya terpaku sesaat. Ia pun menoleh ke belakang dan menyadari sebuah jurus modifikasi rasengan yang tidak diketahuinya datang dengan cepat menuju ke tempatnya berpijak. “Jurus apa itu?”
Katta,” bisik Naruto yang sangat percaya bahwa rencanya ini akan berhasil. Ketiga klonnya terlah berhasil membuat rasenshuriken yang cukup besar, lalu melemparkannya ke arah Miyazaki.
Miyazaki pun tidak tinggal diam dan berlari ke arah rasenshuriken. “Tapi ini elemen angin, kan? Jangan lupa, Naruto, aku juga bisa mengendalikan elemen angin. Dan akulah yang paling kuat di sini.” Ia mengambil rasenshuriken, lalu mengayunkannya….
“Heh, percuma, Kek. Tanganmu pasti akan terluka jika kau terlalu memaksakan—eh?” yang membuat Naruto terkejut, Miyazaki melempar rasenshuriken itu ke tempat sisa klonnya berada. Dan tentu saja klon-klon itu langsung lenyap karena jurus yang sangat dahsyat itu. Rasenshuriken itu pun bergerak melewati kolam lalu menghancurkannya sampai berdebu. Tidak sampai di situ, jurus tingkat S itu malah masuk ke dalam hutan dan memporak-porandakan sebagian isinya hingga menghilang.
“Ya, ampun. Gagal lagi,” ujar Naruto yang menghembuskan napas kecewa.
“Ada keributan apa ini?” Rin yang baru tiba di lokasi karena mendengar beberapa kali dentuman keras terperangah melihat tempat yang dilihatnya sekarang sungguh luluh lantak.
Kushina sendiri ternganga melihatnya. “Ya, ampun. Hutannya sampai hancur begini. Sepertinya tadi itu jurus yang tidak dapat Minato lanjutkan.” Ia lalu menoleh ke bawah dan menyadari Rin ada di sana.
Rin pun merasakan firasat buruk. Ia pun hendak pergi dari sana, tetapi suara Kushina menghentikan langkahnya.
“Rin-chan!!!” seru Kushina dengan riang.
Sialan, aku sebaiknya memang tidak usah kemari, gerutu Rin dalam hati. Ia lalu menoleh ke arah Kushina dan melontarkan senyum palsu padanya. “Ya?”
“Kau bisa kan mengembalikan tempat ini seperti semula? Dengan kekuatan waktumu,” ujar Kushina dengan wajah memelas dan tangan yang menyatu seperti memohon.
“Oh. Hahaha. Tentu saja bisa. Serahkan padaku! Hahaha,” sahut Rin dengan suara nyaring. Itu ia keluarkan untuk menghilangkan rasa frustasinya. Ya, ampun. Tentu saja aku bisa mengembalikan tempat dan hutan di sana seperti semula. Tetapi cakraku akan habis seketika. Aku bakal tidur dua hari dua malam. Ia pun mengaitkan kedua tangannya di depan dada, membuat segel jurus doton. Matanya yang coklat pun memerah. Lalu terdengar gemuruh dari sana.
“Jurus apa itu?” tanya Naruto yang keheranan melihat Rin mengeluarkan jurus yang tidak pernah dilihatnya.
“Rin adalah pengendali waktu. Ia sedang mengubah tempat ini dan hutan di sana kembali seperti semula,” jawab Miyazaki yang mendekat ke arah Naruto.
“Eh? Hebat sekali, aku baru mendengar ada jurus seperti itu.”
“Cepat berdiri. Kita ke Menara Uzumakigakure dan melanjutkan latihan.”
“Tunggu dulu. Sepertinya tulang rusukku ada yang patah dan juga tanganmu—eh?” Naruto tercengang melihat tangan Miyazaki yang menyentuh rasenshuriken tadi tidak terluka sama sekali. “Bagaimana bisa?” Naruto pun mencoba berdiri, dan ia kembai tercengang. “Dadaku tidak sakit lagi. Apa Kyuubi yang menyembuhkanku?”
“Kyuubi tidak menyembuhkanmu. Dia sedang tertidur dalam segelmu. Dan kau tidak akan memerlukan kekuatannya,” jawab Miyazaki dengan wajah datar. “Kalau kau tadi mempertanyakan tanganku, tanganku memang terluka, tapi sekarang tidak jadi masalah.”
 Sekarang Naruto sudah kembali berdiri tegak. “Apa yang terjadi sebenarnya?” tanyanya yang tampak kebingungan.
“Kushina sudah pernah menjelaskannya padamu, kan? Ini adalah salah satu kelebihan yousei. Mereka dapat meregenerasi sel-sel yang rusak dengan cepat ketika terluka. Tetapi memang ada batasnya. Jika musuhmu melakukan serangan bertubi-tubi padamu. Kau pasti akan mati juga.”
“Begitu?”
“Sekarang ikuti aku. Kita tidak punya banyak waktu. Tempat ini serahkan saja pada Rin.” Miyazaki pun kembali mengenakan pakaian atasnya dan berjalan menuju ke Menara Uzumakigakure.
“Apa yang akan kita lakukan?” tanya Naruto pada kakeknya.
“Kita akan bertapa.”
“Huh?” Naruto memperlihatkan wajah tidak tertariknya pada kegiatan itu. “Kau ingin menjadikanku seperti pertapa?”
Tiba-tiba Miyazaki menghentikan langkahnya. “Bukan. Aku ingin kau menjadi Tuhan. Dengan membuang ketujuh dosamu yang tidak terampuni.”
“Hm?” kepala Naruto meneleng ke kanan. Tidak bisa menerka maksud kakeknya. Menjadi Tuhan? Ada-ada saja….
Bersambung….

Share:

4 komentar

  1. chapter 12 nya kak, penasaran ama 7 dosa tak terampuni nih, dan kekuatan naruto stelah nelampaoi rikudo.... makin penasaran nihhhhh

    ReplyDelete
  2. Lanjutannya ada kok, ditunggu saja ya ^^

    ReplyDelete
  3. chapter 13 manaa :'( ini udh berbulan2 sy nunggu lo ayolah maaf sedikit aga ga sabaran

    ReplyDelete