Fanfic NARUTO Dibuang Sayang: HEART Chapter 9

Heart Chapter 9
Naruto © Masashi Kishimoto
Sindarin Language © J.R.R Tolkien
The Death of Naruto.
NaruSakuSasu. Semi-Canon. Tragedy/Romance. Towards to the adventure in the future.


Kisame dengan santai berjalan di hutan rimba yang gelap gulita. Cahaya matahari terhalang masuk karena pepohonannya yang rindang nan lebat. Panasnya begitu terik, mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Seringai kejam terpampang di wajah ikan hiunya yang bersisik.
Beberapa waktu yang lalu Kisame sedikit syok karena dua orang yang tak ia kenali mengobrak-abrik markas Akatsuki hingga luluh-lantak. Tuannya saja—Uchiha Madara—dibuat kerepotan oleh si rambut merah yang akhirnya ia ketahui bernama Namikaze Kushina alias Uzumaki Kushina. Wanita itu seperti racun, menarik hati sekaligus berbahaya. Baru ia lihat ada seorang kunoichi yang berhasil mencundangi tuannya yang merupakan shinobi kriminal papan atas.
Tapi bukan Uchiha Madara namanya kalau ia tidak bisa membalikkan keadaan yang tidak mungkin menjadi mungkin. Rencana yang dibuat Madara boleh dibilang cerdas juga. Meski terlihat konyol, memang tak ada salahnya sekali-kali mengelabui para musuh mereka dan menghilang sementara di suatu tempat untuk mempersiapkan rencana berikutnya.
Maka tentunya sangatlah mudah bagi Kisame mencari mangsa untuk dibunuh. Seperti pesan Madara padanya, Kisame diminta untuk membawakan mayat seseorang, tak peduli dia lelaki atau perempuan.
Setelah berhasil membunuhnya, Kisame membopong mayat tersebut di ujung samaheda yang ia letakkan di atas pundaknya. Sembari menengadah ke belakangnya ia berkata, “Aku sebenarnya ingin membelah tubuhmu jadi beberapa bagian. Tapi apa boleh buat aku di minta Madara-sama untuk membawamu dalam keadaan utuh, walau dengan tubuh tercabik-cabik seperti ini. Fufufufu.” Lantas Kisame pun mulai melanjutkan perjalanannya lagi tanpa ada rasa cemas di hatinya.
Sementara itu di pinggiran hutan—perbatasan antara Amegakure dan Konohagakure, para shinobi Konoha yang terdiri dari Kakashi, Yamato, Neji, Sakura, Shikamaru, TenTen, Kiba, dan Lee, melakukan pencarian markas Akatsuki yang telah mereka cium keberadaannya.
Dengan bantuan Kiba dan Akamaru, mereka bisa mencium jejak Naruto yang dibawa kabur oleh Madara dari robekan baju Naruto yang sempat diambil oleh Sai. Mereka mengikuti kemana arah kedua shinobi pencari jejak itu membawa mereka pergi.
Melompat dari satu dahan ke dahan lain dengan kecepatan tinggi. Saat ini prioritas mereka adalah membawa pulang Naruto ke desa dalam keadaan selamat.
Sakura berada di barisan paling belakang tim. Ia memang terlihat kelelahan, namun bukan hal itu yang sedang mengganjal pikirannya untuk saat ini. Rupanya ia masih memikirkan mimpinya tadi malam. Tapi ia sendiri tak menyangka Akatsuki akan datang untuk menculik Naruto. Ia tak habis pikir Akatsuki akan memanfaatkan keadaan Naruto yang sangat tidak memungkinkan untuk bertarung, atau untuk sekedar melindungi diri. Berarti ada yang memata-matai Naruto selama dia dirawat di rumah sakit Konoha.
Sakura menggigit bibirnya sendiri. Dia tahu betul seorang jinchuuriki akan tewas apabila dipisahkan dari bijuu yang tersegel dalam tubuhnya.
Dulu hal ini pernah ia takutkan, namun lambat laun ketakutannya menghilang karena semakin hari Naruto terlihat semakin kuat. Tapi dia tak menyangka kejadian-kejadian kemarin menimpa dirinya. Dari komanya Sasuke, sampai luka bakar yang dialami Naruto. Semua ini terjadi begitu cepat sehingga Sakura tak tahu mana yang harus ia prioritaskan. Sasuke atau Naruto adalah orang yang sangat berharga baginya. Tapi dia belum berani memutuskan kepada siapa hatinya tertambat.
Ya, Sakura sangat mencintai Sasuke… Tapi di lain pihak, dia juga tak ingin kehilangan Naruto. Mimpinya tadi malam telah membuka matanya perlahan tentang hati kecilnya yang selama ini bersembunyi dibalik kebimbangannya. Naruto mendonorkan jantungnya untuk Sasuke—orang yang selalu Sakura rindukan kehadirannya. Sakura tentu saja sangat mengingat janji seumur hidup Naruto yang ingin membawa Sasuke pulang kembali ke Konoha. Kembali ke pangkuannya. Tapi haruskah sampai seperti itu? Kepulangan Sasuke… Haruskah dibayar dengan hilangnya nyawa Naruto?
Sakura tak mengerti mengapa dia bermimpi seperti itu. Ia boleh bernafas lega karena semua itu hanya mimpi belaka. Ia pasti langsung bunuh diri jika Naruto mendonorkan jantungnya untuk Sasuke. Karena Sakura juga menyadari, Naruto melakukan hal itu karena janjinya. Janji yang membebaninya hingga ia seperti hidup dalam kutukan yang bernama Neraka.
Mungkin kini Sakura telah dewasa dan mengerti apa yang seharusnya ia lakukan. Tak sepatutnya ia membiarkan Naruto sendiri yang terbebani dengan kesengsaraan yang disebabkan olehnya ini. Tak sepatutnya Sakura menuntut banyak pada Naruto sedangkan dia sendiri tak bisa melakukan apa-apa. Ia ingin membantu Naruto, tapi sejujurnya ia belum mampu untuk memikul beban itu di pundaknya sendiri.
Sakura mengatupkan matanya rapat-rapat. Terlalu lama ia pejam matanya hingga ia tak sadar kalau pijakannya pada dahan selanjutnya meleset. Sakura pun terpelanting ke depan, dahan besar siap menerjang tubuhnya yang melesat cepat kea rah sana. Ia ingin menendangkan kakinya ke dahan itu, namun entah mengapa untuk bersalto saja terasa berat ia lakukan.
“Kyaaaa…!!”
“Sakura-san!” teriak Lee yang berada tidak jauh dari Sakura.
Kakashi yang mendengar teriakan Lee, langsung menyambar tubuh Sakura dengan cepat. Lee sendiri tak sempat menyelamatkan Sakura karena saking terkejutnya.
Kakashi meraih Sakura dengan melompat ke dahan di sampingnya. Ia lalu turun ke jalan utama diikuti dengan shinobi yang lain.
“Daijobuka, Sakura?” Ucap Kakashi sembari menurunkan tubuh Sakura ke tanah.
“Ya, aku tak apa-apa. Terima kasih, sensei.”
“Kau terlihat kelelahan, Sakura. Sebaiknya kita istirahat dulu.”
Tapi Sakura tidak setuju dengan keputusan sensei-nya itu. “Tidak, sensei. Aku masih bisa melanjutkan perjalanan. Tenang saja. Tadi aku sedikit melamun hingga nyaris menabrak dahan pohon di depanku.”
“Tapi—.”
Sakura memotong kalimat Kakashi. “Aku mohon, sensei. Aku takut terjadi apa-apa dengan Naruto. Aku mohon kita lanjutkan perjalanan kita. Te—Terlambat sedikit saja Naruto bisa tak tertolong lagi.” Sakura menundukkan kepalanya. Ia merutuki dirinya sendiri, kenapa ia jadi cengeng seperti ini? Lantas mimpinya tadi malam melintas kembali dalam benaknya. “Tadi malam aku bermimpi buruk tentang Naruto. Aku tak mau hal itu terjadi padanya. Aku tak mau dia mati.” Perlahan butiran airmata tampak keluar dari mata jade Sakura yang terlihat sendu.
Tenten menyentuh dagunya dengan tangan. Sebenarnya ia ingin bertanya mimpi seperti apa yang ia alami, tapi ia tak tega menanyakannya.
Kiba dan Akamaru hanya mengerutkan dahi mereka.
Neji, dan Yamato tidak memasang ekspresi apa-apa.
Sedangkan Shikamaru sedang berpikir secara mendalam di alam pikirannya. Kata-kata Ino kemarin kembali menggerayangi otaknya.
“Shikamaru, a—aku… Kau salah mempersepsikan kata-kataku. A—aku hanya tak bisa membayangkan bagaimana Sakura nanti—.”
“Mungkin saja dia berteriak kegirangan karena Sasuke bisa hidup kembali.”
“Tidak, Shika! Sakura tidak mungkin se-egois itu!”
Lantas Shikamaru mengepalkan tangan kanannya. ‘Ck, mendokusei,’ umpatnya dalam hati.
Kakashi menatap kosong muridnya yang sedang bersedu-sedan. “Sakura…” Ia kemudian berjongkok, lalu menyentuh bahu Sakura dengan satu tangannya. “Tenang saja, Sakura. Kita pasti bisa menyelamatkan Naruto,” ucap Kakashi sembari tersenyum di balik maskernya.
Lee sendiri tidak tega gadis yang dipujanya itu tampak berkecil hati. “YOSHH, SAKURA-SAN!!! BETUL YANG DIKATAKAN KAKASHI-SENSEI! KITA PASTI BISA MENYELAMATKAN NARUTO-KUN!!! TENANG SAJA ADA ROCK LEE DI SINI!!!” teriaknya dengan semangat mudanya yang membara.
“Betul, Sakura. Naruto itu shinobi yang kuat. Dia tidak akan mati begitu saja,” ujar Tenten menimpali.
“Hh, si bodoh itu tidak akan mudah mati begitu saja, Sakura. Ingat kita masih memiliki waktu 4 hari sebelum Akatsuki berhasil mengekstrak kyuubi keluar dari tubuh Naruto,” ujar Kiba ikut menyemangati.
Neji, dan Yamato tersenyum pada Sakura. Dari pancaran mata mereka terlihat, mereka juga ikut menyemangati Sakura.
Sakura kemudian menyeka airmatanya yang kadung jatuh keluar. Ia tersenyum karena teman-temannya ada di sampingnya dan menyemangatinya. “Minna… Arigatou”
Hanya satu yang tidak Sakura sadari, Shikamaru menatapnya dengan wajah mengkisut. Sejak tadi Shikamaru memang sedikit blingsatan. Entah mengapa perasaan yang ia rasakan jadi seperti ini. Rasa-rasanya ia ingin kabur, karena baginya perasaan aneh seperti ini terlalu merepotkan untuk ia alami. ‘Semoga kau baik-baik saja, Naruto,’ ucapnya cemas.

0o0o0o0o0o0

Sore hari di Uzumakigakure nampak tenang. Desa yang letaknya lebih tersembunyi dari Konohagakure atau Sunagakure itu memang tak seramai dulu. Namun ke-anggunannya tak pernah lekang oleh waktu. Hutan hujan tropis dengan pepohonan yang lebat dan tingginya melebihi pepohonan di Konohagakure. Lembahnya yang diapit oleh dua tebing tinggi yang di bawahnya terdapat sungai—yang berujung pada lautan luas.
Desa pusaran air, begitu nama lainnya. Di tebingnya yang kokoh lagi tinggi itu berdiri sebuah bangunan cantik yang bertingkat-tingkat menjulang ke langit. Terdapat beratus-ratus paviliun kecil maupun besar di sekitarnya. Inilah sebuah desa kecil yang sebenarnya lebih maju dibandingkan dengan desa lain di Lima Negara Besar shinobi.
Di salah satu ruangannya yang berdinding pualam berwarna pastel, berdiri seorang wanita berambut merah mawar yang memakai lengkap baju miko-nya. Baju itu dulu biasa ia pakai di acara-acara besar desa karena memang dialah dulu pemimpin desa Uzumakigakure. Desa yang kini menghilang dari peradaban dunia shinobi karena keserakahan para shinobi itu sendiri. Perang dunia ninja pertama telah membuat desa itu bersembunyi, menjauh dari desa yang lainnya.
Ruangan rahasia itu sengaja di gelapkan. Kushina tak sendirian di situ. Di depannya terbaring Naruto yang sejak tadi malam tak juga bangun dari tidurnya. Naruto diletakkanya di atas dipan kecil yang tidak terlalu tinggi. Melihat keadaan Naruto yang seperti ini, Kushina telah memutuskan untuk membuka segel Yang Naruto. Ia tak bisa lagi menumbuhkan Kanina Rosu seperti waktu perang dunia shinobi ketiga dulu. Bunga mawar ajaib yang sarinya bisa menyembuhkan luka seseorang.
Waktu menyegel kyuubi ke dalam perut Naruto, Hokage Keempat membagi chakra kyuubi menjadi Yin dan Yang. Yin menyegel chakra iblisnya, sedangkan Yang menyegel chakra lain dan juga kekuatan tersembunyi Naruto yang hanya diketahui oleh kedua orangtuanya sendiri. Chakra kyuubi bagian Yang dapat berbaur dengan tubuhnya sehingga chakra inilah yang biasa Naruto pakai dalam pertarungan normal.
Jika Naruto dalam keadaan marah, chakra Yin dapat menerobos masuk mempengaruhi emosinya. Karena itulah Naruto akhir-akhir ini sering kehilangan kontrol terhadap kyuubi jika ia bertarung dalam keadaan marah. Yin dan Yang dalam segel Naruto memang tak lagi seimbang dulu, sehingga Kushina memutuskan membuka segel chakra Yang agar dapat seimbang dengan segel chakra Yin pada saat Naruto sedang dalam keadaan bertarung. Dan kekuatan tersembunyi Naruto itu akan keluar, sehingga dapat menyembuhkan tubuhnya yang penuh dengan luka.
Naruto akan Kushina jadikan yousei seperti dirinya… Alasan mengapa Minato ikut menyegel kekuatan yousei Naruto? Karena Naruto perlu belajar bertahap menjadi seorang jinchuuriki dan juga yousei. Dua kekuatan iblis dan malaikat itu sangat bertolakbelakang sehingga tak mudah untuk disatupadukan. Namun sudah saatnya Naruto belajar untuk dapat mengendalikan dua kekuatan itu.
Kushina mulai membuat segel tangan secara berurutan. Tatsu… Tora… Saru… Inu… Mi… Uma… Ushi… Ne… Tatsu.
ZIINKKK
Muncul sinar kuning yang menyelimuti tangan kanan Kushina. Ia kemudian mendekati Naruto yang terbaring di depannya—yang hanya memakai celana pendek sampai ke lutut. Segel Hakke muncul di perut Naruto. Dengan perlahan Kushina meletakkan kelima jari tanggannya di beberapa bagian segel. Lalu memutar segel 90 derajat dengan hati-hati.
Tiba-tiba muncul sinar kemerahan yang keluar dari sana. Jiwa Kushina pun masuk ke dalam segel Naruto.
Kyuubi yang sedang tidur nyenyak membuka satu matanya. Telah lama ia dalam keadaan lesu seperti ini. Dia masih ingin tidur, tapi sepertinya ada yang mengunjunginya. Maka Kyuubi pun menggeram kesal karena ada yang mengganggu istirahatnya.
“Grrrhhh… Siapa kau? Tunjukkan dirimu. Aku tahu ada yang menggangguku.”
Kemudian Kushina berjalan perlahan ke arah Kyuubi yang meringkuk di balik jeruji. “Lama tak jumpa, Kyuubi,” ucapnya sembari tersenyum.
“Ka—Kau? Siapa kau?”
“Kau lupa siapa aku?” Kushina lalu mengarahkan tangannya pada Kyuubi.
ZRAATTT!!! DRRR… DRRR…
Tiba-tiba rantai-rantai kuat menjerat tubuh Kyuubi. “GRRAHHH… A—Apaan kau? Tu—Tunggu… Kekuatan ini…” Kyuubi mengalihkan pandangannya ke arah Kushina. “Ku—Kushina… Eh?” Kyuubi menyadari ada yang lain dengan penampilan wanita berambut merah itu. “Kau—Kau kembali menjadi yousei?!!”
“Aku memang tidak merubah diriku menjadi manusia biasa seutuhnya, kyuubi.”
“Heh, bagaimana bisa? Tapi kau dulu mati ‘kan?”
Kushina lalu mengambil anting mawar yang ia pakai di telinganya. “Yousei juga bisa mati, hanya dia memiliki bermacam-macam kekuatan untuk hidup selama ribuan tahun lamanya. Aku hidup kembali karena ini.” Kemudian anting itu berubah menjadi cahaya putih berbentuk bintang segi enam. “Sebelum aku ke Konohagakure, ayahku memberikan hadiah berupa anting ini padaku. Dia kembali membawaku tubuhku yang tak berdaya kembali ke Valinor, tapi tak kusangka ini adalah—.”
“Bi—Bintang utara Earendiru,” ucap Kyuubi memotong kalimat Kushina. “Jadi klan kalian akan bangkit kembali?”
Kushina mengangguk. “Ya, gerbang Shikigami—gerbang Uzumakigakure—telah terbuka. Keempat Dewa Pelindung telah bangkit dari tidur panjangnya. Kalian bijuu-bijuu akan kembali ke tuan kalian.”
“Eh, benarkah? Jadi aku bisa bertemu kembali dengan Suzaku-sama?” Tanya Kyuubi yang langsung tertarik dengan apa yang sedang mereka bicarakan.
Kushina mengangguk lagi. “Tapi aku meminta bantuan padamu, Kyuubi.”
“Huh, apa yang kau inginkan?”
Kushina memejamkan matanya sejenak. “Aku memutar seperempat segel Hakkefuuin Naruto.”
Kyuubi tiba-tiba menjadi marah. “Kau mau membuka segel Yang Naruto? Lalu tetap membiarkan aku di sini?!”
“Belum saatnya kau keluar, Kyuubi. Tapi aku menjamin kau bisa kembali lagi ke tempat asalmu di lembah api bersama Suzaku-sama.” Kushina kembali mengangkat tangannya ke depan kyuubi.
BRAKKK… BRAKKK…
Rupanya ia menambah kerangkeng menjadi 3. Ia lantas mengepalkan kedua tangannya. “Fuuin!” teriak Kushina.
“Grrrhhh… Kau Kushina…”
“Maafkan aku, Kyuubi. Aku akan menjadikan Naruto menjadi yousei. Kau tidak akan kubiarkan mengganggu.”
“Yousei? Hh, jangan bercanda Kushina.”
“Naruto terluka parah, aku tak ada pilihan lain. Lebih baik kau tidur saja, Kyuubi.” Kushina lalu menghilang dari hadapan kyuubi yang terlihat memejamkan matanya perlahan. Ia mulai merasakan badannya lesu kembali. Tapi kyuubi tak ingin berontak, ia ingin kembali melanjutkan tidurnya.
Kushina lalu kembali ke ruangan rahasia tadi, dan mendekati Naruto yang masih terbaring di sana.
“Naruto, anakku. Waktunya telah tiba. Maaf aku tiba-tiba muncul lalu seenaknya saja merubah kau menjadi yousei sepertiku. Tapi tenang saja, kau tetap bisa hidup bersama dengan manusia biasa,” ucap Kushina sembari mencium dahi Naruto. Ia lalu mengarahkan antingnya yang berubah menjadi bintang putih berbentuk segi enam ke kyuubi host itu.
Segel Yang Naruto telah Kushina buka, kini tinggal menambah energi kehidupan yousei agar ia menjadi yousei seutuhnya. Ia lalu mengucapkan sihir purbakala yang berasal dari leluhurnya. “Éala éarendel engla beorhtast*!”

0o0o0o0o0

“Itu tempatnya…” ucap Kiba yang menunggangi Akamaru. “Baunya samar-samar, aku tak mengerti. Tapi… ya aku yakin di sana.” Kiba menunjuk ke arah goa yang pintu masuknya terbuka.
Kakashi memincingkan matanya. Misi ini sedikit berbeda dengan misi-misi ia melawan Akatsuki sebelumnya. Tak ada jebakan, tak ada kesulitan berarti yang mereka hadapi. Kakashi tahu walaupun Akatsuki tinggal sedikit setidaknya pertahanan mereka tak selemah ini. ‘Apa yang sedang kau rencanakan, Uchiha Madara?’ Kakashi terlihat berpikir dalam benaknya.
“Senpai, apa rencanamu?” Yamato yang berdiri di samping Kakashi memperhatikan seluruh area. Dia juga sedikit curiga dengan kesunyian yang meliputi mereka. Seolah ada sesuatu yang besar—yang siap memukul mereka dengan keras. Yamato sendiri tidak tahu mengapa perasaannya menjadi tidak enak.
“Neji, tolong lihat daerah ini dengan byakugan-mu. Apa ada jebakan yang terpasang. Kalau bisa sekalian juga kau lihat apa yang sedang terjadi di dalam goa,” perintah Kakashi pada Neji
“Hai, wakarimashita.” Neji lalu mengatup kedua matanya dan membukanya kembali. “Byakugan!” Mata byakugan Neji melirik ke beberapa tempat yang mencurigakan, tapi ia tak menemukan ada kekkai atau jebakan yang terpasang di sekitar mereka. “Aku menjamin, tak ada kekkai terpasang di sekitar goa ini, Kakashi-sensei.”
“Begitu?” Kakashi terlihat berpikir sejenak. ‘Aneh, kekkai saja tidak dipasang. Apa yang Madara rencanakan sebenarnya?’
“Baiklah, Neji. Sekarang coba kau melihat ke dalam. Apa yang kau lihat?”
Neji lalu melihat ke dalam goa dengan byakugannya yang masih aktif. Beberapa detik kemudian Neji melihat sesuatu yang janggal di dalam goa. Tapi ada satu hal yang membuat bulu kuduknya merinding. “Ugh…,” raut wajah Neji yang tadinya serius tiba-tiba berubah drastis.
Kakashi menyadari akan hal itu. “Apa yang kau temukan, Neji?”
Neji lalu melirik Kakashi sebentar lalu memalingkan wajahya ke arah goa lagi. “Sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Lebih baik kita masuk ke dalam, sensei.”
Kakashi lalu mengiyakan. Ia perhatikan ketujuh anak buahnya yang berdiri tidak jauh darinya. Lantas Kakashi berjalan paling dulu untuk memastikan medannya berbahaya atau tidak.
Kakashi bersandar di pinggir mulut goa. Ia memperhatikan ke dalam, tapi tidak bisa melihat lebih ke dalam lagi karena goa itu sangatlah gelap, cahaya matahari hanya masuk di bagian mulutnya. Ia pun menyuruh yang lain untuk menyusulnya masuk ke dalam dengan isyarat tangan.
Sementara itu di dalam goa…
“Madara-sama, mereka datang.”
“Ya, aku tahu. Biarkan saja mereka masuk. Fufufu.” Madara menyeringai kejam. Ia kemudian memandang ke bawah—ke mayat yang tergeletak di lapangan luas goa. “Shouten no jutsu Pain akan menipu mereka. Beruntung aku pernah meng-copy jutsu-nya dengan sharingan-ku.”
Beralih ke tim Kakashi.
Kedelapan shinobi Konoha mulai masuk secara hati-hati ke dalam goa. Kakashi dan Yamato berada paling depan, tiba-tiba mereka berhenti berlari ketika sebuah suara muncul di sekitar mereka.
“Wah, kalian telah datang rupanya. Sudah kuduga. Fufufu…”
‘Uchiha Madara…’ ucap Kakashi dalam hatinya. “Tunjukkan dirimu, Madara!”
“Aku di sini. Fufufu.”
Kedelapan shinobi Konoha lantas mengalihkan pandangan mereka ke sebelah kanan goa. Di sana tampak Madara dan Kisame sedang berdiri di atas patung Gedou Mazou.
Kakashi melihat disekelilingnya, ia menyadari bahwa goa itu tampak begitu lantak tak beraturan. ‘Kenapa hancur seperti ini. Apa terjadi pertarungan sebelum kami sampai ke sini?’ Lalu matanya mencoba menerawang ke depan. Dilihatnya seseorang tergeletak di sana. Kakashi langsung mengenali seseorang itu dari kejauhan. ‘Ma—Masa?’Matanya tiba-tiba terbuka lebar.
“Senpai, itu…”
“Tidak mungkin. Tidak mungkin itu Naruto, Tenzou.”
“Naruto!” teriak Sakura tiba-tiba. Ia hendak menghampiri sosok Naruto yang tergeletak di tanah goa. Tapi Kakashi langsung menahannya.
“Tunggu, Sakura. Kau jangan gegabah dulu. Bisa jadi ini jebakan.” Kakashi lantas menatap Madara dengan tatapan penuh tanda tanya. “Sebenarnya apa yang terjadi sebelum kami datang? Aku tahu sepertinya telah terjadi pertarungan di sini… Dan menurutku tidak mungkin kau bisa mengekstrak kyuubi secepat itu dari tubuh Naruto.” Kakashi lalu menyadari luka di bahu Madara. Lalu luka di bahu kirimu itu—.”
Madara langsung memotong kalimat Kakashi. “Kau terlalu banyak berspekulasi Kakashi. Ya, tadi monster kecil itu sedikit memberontak sehingga aku harus melawannya sedikit. Aku terpaksa menggunakan sharingan-ku untuk mengeluarkannya. Kau sendiri tahu ‘kan Kakashi? Aku bisa mengendalikan kyuubi dengan sharingan. Fufufu…”
“Maksudmu Naruto berubah menjadi kyuubi?”
“Ya… Begitulah… Dia langsung mati begitu aku mengeluarkan kyuubi dari tubuhnya.” Madara menyeringai kejam, sepertinya aktingnya berhasil ia laksanakan. Ekspresi yang dipasang oleh para shinobi Konoha tampak mempercayai apa yang Madara ucapkan. Mereka terlihat tidak tenang…
“Usotsuki…” ucap Sakura yang tak percaya dengan ucapan Madara.
“Kau tidak percaya? Kalau begitu lihat ini…” Madara menunjukkan patung Gedou Mazou yang kesembilan matanya terbuka. “Kau tahu apa artinya ini ‘kan, Hatake Kakashi?”
‘Ti—Tidak mungkin.’
“Naruto sudah mati, Kakashi. Hahaha!”
“Naruto!” Sakura tiba-tiba berlari ke arah mayat Naruto, ia tak peduli apakah ada jebakan atau tidak. Sakura duduk di sebelahnya, ia langsung berteriak histeris ketika dilihatnya luka-luka yang ada di tubuh temannya itu. Ada beberapa luka bekas cakar di tangan, kaki, dan wajah Naruto. Bibirnya yang membiru penuh dengan bercak darah. Wajahnya penuh luka lebam yang diperkirakan disebabkan oleh pukulan yang sangat kuat.
Sakura langsung buru-buru membuka baju Naruto yang terkoyak-koyak, mengeluarkan jutsu medisnya ke tubuh temannya itu. “Ba—Bangunlah, Naruto!” Cahaya kehijauan menyelimuti kedua tangannya. Ia memeriksa beberapa titik denyut nadi Naruto.
“Percuma saja kau menyembuhkannya, kunoichi pink!”
Sakura langsung menoleh pada Madara, mata hijaunya yang berair memandang Madara dengan tajam. Ia ingin sekali menghajar Uchiha itu hingga babak-belur. Tapi tak Sakura hiraukan kalimat Madara. Ia berusaha mencari nadi Naruto yang masih berdenyut. Tak apa walau lemah, Sakura berharap bisa membuat denyut nadi itu berdetak lagi.
“Aku mohon bangun, Naruto! Kau tidak boleh mati! Kau masih memiliki cita-cita menjadi Hokage!” teriak Sakura. Ia mulai menangis histeris. Tapi yang dipanggil namanya tak memperlihatkan reaksi apa-apa. Seperti tak ingin dibangunkan dari tidur nyenyaknya.
“Hahaha, monster kecil itu sudah mati. Aku sudah bilang percuma saja kau mengobatinya,” ejek Madara.
“Diam kau topeng busuk! Namanya Naruto! Lihat saja, setelah ini aku akan menghajarmu habis-habisan!” bentak Sakura pada Madara.
Madara hanya terkekeh-kekeh mendengarnya. ‘Gadis yang menyeramkan,’ ejeknya dalam hati. Ia pun berniat untuk segera lari dari sana karena tak bagus juga untuk berlama-lama tinggal, meski ia sangat menikmati melihat ekspresi para shinobi Konoha yang terlihat syok.
“Baiklah aku permisi dulu. Sampai jumpa dilain waktu, Hatake Kakashi. Hahahaha.” Madara pun menghilang bersama Kisame dan patung gedou mazou.
Sakura menambah chakra ke kedua tangannya hingga batas maksimum. “Sialan! Aku mohon bukalah matamu, Naruto.” teriaknya lagi.
“Sakura…” lirih Yamato.”
Neji, Tenten, Lee, Shikamaru, Kiba dan Akamaru hanya bisa menatap sedih pemandangan yang ada di depan mereka.
“Sakura, cukup. Kau sudah berusaha dengan keras. Bisa-bisa kau mati karena kehabisan chakra,” ucap Kakashi yang mulai khawatir dengan tindak-tanduk muridnya itu. Sakura sudah terlalu banyak mengeluarkan chakra.
“Tidak bisa, sensei! Aku bisa menyelamatkan Sasuke-kun. Kenapa—Kenapa aku selalu gagal untuk menyelamatkan Naruto?!” Sakura mulai histeris lagi. Ia tak menyangka apa yang ia takutkan berubah menjadi kenyataan.
“Itu bukan salahmu, Sakura-san,” hibur Lee. Tapi tak pelak airmata juga jatuh di kedua matanya yang beralis tebal.
Kakashi yang melihat hal ini tak mau diam saja. Bisa-bisa Sakura juga ikut mati karena kehabisan chakra. “Shikamaru, tolong pisahkan Sakura dari mayat Naruto.”
Sakura langsung menoleh pada Kakashi. “Tidak, sensei! Jangan sebut Naruto seperti itu! Dia belum mati!”
“Ayo, Sakura. Kita keluar dari tempat ini dan kembali ke desa,” Shikamaru secara perlahan menarik Sakura menjauh dari Naruto.
Tapi Sakura memberontak. “Lepaskan! Aku harus menyelamatkan Naruto!”
“Cukup, Sakura! Kau sudah kehilangan banyak chakra. Bisa-bisa kau ikut mati!” Shikamaru mulai menarik Sakura secara paksa untuk keluar goa. Ia hampir ingin menggendong Sakura ala bridal style, tapi Sakura melawan dan mendorongnya hingga Shikamaru jatuh terpelanting ke tanah.
“Aku tak peduli kalau aku mati. Yang penting Naruto bisa hidup! Lepaskan aku, Shikamaru!” Sakura berlari kembali ke arah Naruto. “Naruto!” teriaknya.
Shikamaru lalu mengejar Sakura dan menangkapnya lagi sebelum ia berhasil sampai ke tempat Naruto.
“Kyaa!!!” teriak Sakura sembari berontak. Ia mengayunkan kedua kakinya agar Shikamaru mau melepaskannya.
“Berhenti, Sakura!”
“Lepaskan aku! Aku ingin mengobati Naruto!” perilaku Sakura mulai tak bisa dikontrol. Shikamaru mengerti, the Hokage apprentice itu tidak terima dengan kejadian ini.
Shikamaru lantas memalingkan wajah Sakura agar menatapnya. “Berhenti, Sakura! Kau sendiri sudah tahu ‘kan? Naruto sudah mati!”
Sakura langsung diam, menatap mata onyx Shikamaru yang tampak membara. “Ma—Mati?” lirih Sakura yang banjir air mata. Ia menatap Shikamaru dengan tatapan sendu yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Shikamaru mengangguk kepalanya yang terasa berat. “Aku mohon, Sakura. Aku sangat mengerti dengan apa yang kau rasakan. Tapi aku mohon, biarkan Naruto pergi.” Ia sebenarnya tak sanggup mengatakan ini tapi apa mau dikata, kalimat menyakitkan itu begitu mengalir saja keluar dari bibirnya. Shikamaru sendiri tak ingin mempercayai semua hal yang tiba-tiba saja muncul di depan matanya. Ia ingin mencoba menganalisa semua ini dengan otak cerdasnya yang jarang ia gunakan. Tapi yang penting, ia harus kembali ke desa dulu
Sakura masih menangis terisak-isak. Ia memberanikan diri untuk melihat mayat Naruto lagi. Dilihatnya Kakashi mengangkat perlahan Naruto yang sudah tak berdaya ke punggungnya. Tak ada tanda-tanda kehidupan yang ia lihat di wajah polos Naruto. Sakura ingin berontak, tak terima dengan kenyataan seperti ini.
‘Kenapa? Kenapa?’ batin Sakura. Ia lalu terkulai lemas di dekapan Shikamaru. Ia turunkan kepalanya ke dada pewaris klan Nara itu.
Shikamaru langsung menggendong Sakura ala bridal style dan keluar dari goa lebih dulu dari yang lainnya. Menyusul kemudian Tenten, Lee, Neji, Yamato, Kiba, Akamaru, dan Kakashi. Shikamaru melirik Sakura yang matanya terpejam, tapi masih terdengar isakan kecil dari bibirnya yang berulang kembali menyebut nama Naruto.
“Senpai, apa yang kita akan lakukan selanjutnya?” Tanya Yamato yang wajahnya menjadi sedikit muram.
“Aku akan mengirimkan Pakkun untuk memberi kabar pada Godaime-sama. Kalian pulang ke desa lewat ke gerbang utama saja. Aku akan masuk dari gerbang lain. Yang jelas kematian Naruto ini jangan dulu tersebar luas di desa.”
Para shinobi Konoha mengiyakan, lalu melangkah menjauhi goa. Kakashi sendiri berjalan paling belakang bersama Yamato. Ia memandang ke tanah di kakinya dan menyadari kalau dia telah menginjak sesuatu.
Kakashi berhenti sejenak. ‘Bunga mawar? Aneh di perjalanan tadi aku sama sekali tak menemukan tanaman mawar tumbuh di sekitar hutan yang aku lewati.’ Ia mengangkat kakinya dari bunga mawar itu.
“Senpai.”
Lamunan Kakashi buyar ketika Yamato memanggilnya. Ia menoleh pada anggota Anbu tersebut.
“Ada apa, senpai?”
“Tenzou, bisakah kau mengambil bunga mawar ini?”
“Hm, ada apa, senpai? Kenapa ingin mengambilnya? Aku rasa ini hanya mawar biasa.”
“Bukan begitu, Tenzou. Aku sepertinya mengenal mawar ini. Tapi aku tidak ingat mengapa aku mengenalnya.”
Yamato terlihat bingung dengan pernyataan seniornya itu. Tapi ia menuruti, karena ia sendiri merasa ada yang aneh dengan semua kejadian tadi. Dia juga menyadari bahwa ia sendiri juga tak melihat tanaman mawar tumbuh di sekitar sana
Sementara itu di rumah sakit Konoha, Ino sedang men-check keadaan Sasuke yang baru saja melakukan pengobatan. Keadaan Sasuke belum banyak berubah dari hari kemarin, Ino tahu akan hal itu. Tapi yang membuatnya terkejut adalah progress dari keadaan jantung Sasuke yang berubah drastis.
“Sebenarnya Sakura menemukan tanaman apa? Aku belum pernah melihat ramuan yang bereaksi secepat ini. Keadaan jantung Sasuke-kun berangsur-angsur stabil. Sungguh ajaib,” ucap Ino berbicara sendiri. Ia sangat takjub dengan apa yang ditemukan sahabat sekaligus rivalnya itu. Ia tersenyum, mengaku kalah pada Sakura dalam urusan cinta dan medis. Namun tiba-tiba masalah lain menghampiri otaknya. “Semoga kau juga bisa menyelamatkan Naruto, Sakura,” lirihnya sembari melihat ke arah luar jendela. Gerimis mengundangnya untuk menelaah awan nimbus yang mulai tebal menutupi langit desa Konoha. Musim hujan sudah tiba rupanya…

0o0o0o0o0

Tsunade sedang berada di ruangannya, memandang hujan yang turun rintik-rintik membasahi bumi Konoha. Ia menghembukan nafasnya kuat-kuat. Tadi ia berhasil menang mempertahankan pendapatnya setelah adu mulut selama 3 jam dengan Koharu dan Homura. Tsunade menjamin pada mereka berdua bahwa Naruto akan selamat dan kyuubi tak akan berhasil Akatsuki dapatkan.
Tsunade masih ingat percakapannya tadi dengan dua orang dewan petinggi Konoha itu.
“Bagus kalau itu perkiraanmu, Tsunade. Aku berharap kau bisa memperbaiki semua kekacauan ini dan memperkuat keamanan desa yang akhir-akhir ini terlihat longgar,” ucap Koharu yang langsung menyatakan pendapatnya sehabis mendengar pernyataan Tsunade yang optimis Naruto akan berhasil diselamatkan oleh tim yang sedang bertugas.
“Huh, kalian terlalu berlebihan menghadapi masalah yang ada. Aku tak seperti kalian yang selalu menghadapi masalah dengan kepala panas. Sekali-kali kalian taruh batu es di kepala lain agar sedikit dingin.”
“Beraninya kau berbicara seperti itu, Tsunade! Sebagai seorang pemimpin dan shinobi tak seharusnya kau bersikap lunak seperti itu!” bentak Homura pada the Slug sannin itu.
Tsunade tetap santai menghadapi mereka berdua. “Terserah kalian mau bilang apa. Yang jelas aku tetap mempertahankan ideologi kakekku dalam memimpin desa ini,” ucap Tsunade tersenyum bangga. Bisa dilihatnya Koharu dan Homura mulai tidak tahan dengan sikap keras kepalanya itu.
“Kau—Kau?” Homura menahan amarahnya sebisa mungkin, lalu ia ingat masalah lain yang ia ingin utarakan. “Hh, aku dengar ninja buronan, Uchiha Sasuke telah kembali ke Konoha, benarkah itu?”
Tsunade terkesiap dengan pertanyaan Homura itu tapi dia memasang wajah setenang mungkin. “Kalau memang benar, apa yang ingin kau lakukan?”
“Kami akan menyidang tindak kriminalnya kalau dia keluar dari rumah sakit nanti. Untuk masalah ini aku harap kau tak melindunginya, Tsunade.”
Tsunade tidak menjawab, ia menatap dua orang itu yang duduk di depannya.
“Kami akan mengusulkan hukuman mati untuk Uchiha Sasuke.”
Tsunade lagi-lagi menghembuskan nafasnya kuat-kuat. Kepalanya sedikit pusing dengan semua masalah yang menimpa desanya. Tak ada yang menemaninya untuk saat ini. Shizune masih berada di rumah sakit karena terluka saat melawan Madara tadi malam. Ia memandang lagi hujan rintik-rintik yang jatuh membasahi bumi desanya.
“Jiraiya… Andai kau berada di sini, apa yang akan kau katakan kepadaku?” lirih Tsunade yang tetap memandang tetesan hujan di depan matanya.

Bersambung…
Glossary

*Wahai earendell. Cahaya terang milik para Malaikat!
Okay fic ni bentar lagi sampai ke final chapter. Elven belum memutuskan mau diakhiri di chappie 10 atau 11.
Kalau mau ngeliat gimana baju miko Kushina, kurang lebih sama kayak Princess Kakyuu dari Sailormoon yang ada di primary pic elven. Kalau mau liat silahkan kunjungi profile elven hehe.
Akhir kata, review please ^^

Share:

0 komentar